Berguru pada Orang Tua, Kualitas Barang Berani Diadu
Mak Inot, begitu sapaannya. Wanita 80 tahun asal Kampung Cikujang Anyaun RT 13/3, Desa/Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi begitu cekatan mengangkat ember berisi air, lalu membawanya ke halaman rumah.
Kemudian ia menyiapkan tanah liat, tak lupa alat putar tradisional. Dengan tekun dibentuknya tanah liat sesuai keinginan. Produk apa yang dihasilkan, berikut liputannya.
BAMBANG SURYANA, Sukabumi
Sudah 50 tahun lamanya, Mak Inot bergelut setiap hari dengan tanah liat. Bahkan ia sudah piawai membentuk material tersebut dengan tangan terampilnya.
Keahlian dalam membuat peralatan dapur seperti coet, kendi, asbak, celengan hingga pot bunga sudah diketahui masyarakat. Bahkan, bentuk yang dibuatnya pun bernilai seni tinggi, dan tahan lama.
Pesanan demi pesanananpun datang kepadanya. Seperti pembuatan piring dari tanah liat serta cobek yang dibuatnya sendiri di halaman rumah.
“Kerajinan tangan ini merupakan warisan dari orang tua saya. Saya belajar dari sejak kecil,” kata Mak Inot kepada Radar Sukabumi kemarin, (17/10).
Dulu di tempat tinggalnya banyak pengrajin tanah liat yang membuat perabotan dapur. Hanya saja, zaman semakin modern membuat kondisi berubah. Tidak sedikit dari pengrajin yang meninggalkan usaha ini.
Hanya tinggal beberapa orang saja yang masih menekuni kerajinan tersebut. Dijelaskan Mak Inot, ketika masih muda setiap hampir 50 buah kerajinan tanah liat dihasilkan. Tapu kini, dia hanya sanggup membuat paling banyak lima sampai sepuluh buah.
“Karena saat ini saya sudah tidak kuat lagi membuat lebih banyak,” paparnya.
Butuh kesabaran dan ketekunan dalam proses pembuatan barang dari tanah liat. Juga diperlukan waktu tidak hanya berhari-hari bahkan beberapa minggu.
Dari mulai memilih jenis tanah liat yang pas ,proses pembentukan hingga menguatkannya dalam pembakaran. Tanah liat yang sudah dibentuk, dibakar di oven dalam sebuah tungku.
“Sebulan paling hanya puluhan yang bisa dibuat,” ujarnya.
Diakui Inot, dalam pemasaran dirinya menemukan kesulitan. Namun, saat ini ia memasarkannya ke sejumlah toko yang berada di Kota Sukabumi serta tidak sedikit warga sekitar yang datang untuk membelinya.
“Ya, sekarang saingannya sangat ketat. Karena itu saya menunjukannya dari kualitas barang yang tak mudah rusak,” sahutnya.
Hasil karyanya tersebut dijual dengan harga bervariasi mulai dari Rp20 ribu sampai Rp50 ribu. Apabila penjualannya lagi bagus, dirinya mampu menjual hingga puluhan barang.
“Kalau lagi jelek paling belasan yang bisa terjual,” pungkasnya. (*/t)



