“Saya hanya diberitahu Facebook yang punya otoritas melakukan audit itu Inggris. Otoritas di Inggris bilang ini indikasinya ada kesalahan di CA. Jadi sayanya bingung seperti ada yang berbeda. Masyarakat Indonesia yang merasa dirugikan datanya oleh Facebook melalui aplikasi kasih tahu ke Kominfo,” ingatnya lagi.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Semuel Abrijani Pangerapan menjabarkan bahwa berdasarkan data dari audit internal Facebook, kebocoran data hanya terjadi di Amerika Serikat. Bukan di seluruh dunia seperti yang sebelumnya ramai diberitakan.
“Mereka melaporkan dari 87 juta yang diduga bocor, ternyata ditemukan audit internal Facebook, kebocoran data itu angka itu 30 juta saja. Semuanya pengguna Amerika Serikat dan tidak ada satu pun dari luar Amerika Serikat,” katanya demikian.
Baik Rudiantara ataupun Semuel menambahkan, pihaknya dalam hal ini Kemenkominfo mengaku masih akan terus memantau perkembangan kasus Facebook ini. Penyedia platform media sosial itu hingga kini juga masih diselidiki pemerintah Inggris selaku otoritas yang berwenang dalam audit skandal CA guna menentukan langkah selanjutnya.
(ce1/ryn/JPC)





