Membangun Bisnis Kreatif dari Limbah Kertas : Kisah Inspiratif Nurhaeti, Pemilik Despar311
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, sering kali kita menemukan barang-barang bekas yang tak terpakai, menumpuk di sudut-sudut rumah, termasuk kertas-kertas yang sudah tidak digunakan lagi.
Namun, bagi Nurhaeti, seorang wanita kreatif asal Sukabumi, limbah kertas bukanlah sekadar sampah. Melalui sentuhan tangan kreatifnya, kertas-kertas tak bernilai tersebut diubah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, yang kini dikenal melalui merek Despar311.
Kisah ini berawal dari sebuah pertemuan sederhana yang ternyata menjadi titik balik dalam kehidupan Nurhaeti. Seorang adik kelas dari pondok pesantren yang sudah lama tak berjumpa datang berkunjung ke rumahnya saat sedang memberikan pelatihan di salah satu boarding school di Sukabumi. Dari obrolan singkat itulah, Nurhaeti mengenal dunia kerajinan dari kertas, sebuah hobi yang kemudian berubah menjadi bisnis yang menghasilkan.
“Awalnya, dia datang ke rumah saat jam istirahat dan bercerita tentang kegiatan pelatihan yang sedang dia lakukan di Sukabumi. Kebetulan, dia dari Jakarta. Dia memperkenalkan saya pada dasar-dasar pembuatan kerajinan dari kertas. Dari situlah saya mulai mencoba, dan ternyata saya kecanduan,” cerita Nurhaeti.
Dengan semangat yang tinggi, Nurhaeti mulai membuat berbagai produk dari kertas, seperti tas, topi, guci, keranjang, nampan, kursi, hingga tempat tisu yang dia namai “Tisu Borobudur.” Proses pembuatan produk-produk ini sangat bergantung pada mood dan inspirasi yang datang, serta dilakukan dengan penuh cinta tanpa terikat pada target tertentu.
“Kadang, dalam satu hari, saya bisa membuat vas bunga 10 hingga 15 buah. Namun, untuk produk lain seperti tempat tisu, saya mungkin hanya membuat satu karena tergantung pada model dan kerumitan pembuatannya,” jelasnya.
Pandemi COVID-19 menjadi momentum bagi Nurhaeti untuk lebih fokus pada hobi barunya ini. Di saat banyak orang kehilangan aktivitas, dia melihat tumpukan buku pelajaran bekas yang berantakan di rumahnya dan memutuskan untuk mencoba membuat kerajinan dari kertas-kertas tersebut.
Tanpa bimbingan formal, Nurhaeti belajar secara otodidak dan terus mengembangkan keterampilannya. Seiring waktu, banyak orang mulai menyukai dan membeli produk-produk buatannya, yang kemudian mendorongnya untuk menjadikan hobi ini sebagai bisnis rumahan yang menguntungkan.
“Intinya, saya mendaur ulang kertas yang tadinya tak bernilai menjadi sesuatu yang berharga dan memiliki nilai ekonomi. Barang yang tadinya dibuang kini menjadi uang,” ujarnya bangga.
Meskipun bahan baku berupa kertas bekas sangat mudah didapatkan, Nurhaeti mengakui bahwa ada beberapa tantangan dalam menjalankan bisnis ini, terutama dalam hal tenaga ahli dan pemasaran.
“Kendala utama mungkin adalah tenaga ahli yang masih sulit ditemukan. Untuk pemasaran, tidak semua orang menyukai seni, jadi itu menjadi tantangan tersendiri,” katanya.






