Demi efisiensi waktu, saya buru-buru naik trem, kembali ke Stasiun Randen Shijou Omiya. Sepanjang perjalanan, saya komat-kamit berdoa supaya hujan tak semakin deras. Sudah rezeki anak salihah, hujan mulai reda ketika saya beranjak ke lokasi selanjutnya, Mibudera.
Terletak sekitar 7 menit jalan kaki (dengan kecepatan jalan orang Jepang) dari Stasiun Randen Shijou Omiya, lokasi Mibudera nyelempit di Boujou Street di kawasan Mibu. Jalan kecil itu hanya pas dilewati dua mobil. Jaraknya kira-kira 750 meter atau selisih dua traffic light dari stasiun.
Saya mencoba menghapus keraguan dengan bertanya kepada dua pria parobaya yang berdiri di depan toko suvenir dan snack tradisional. ”Oh, Mibudera? Lurus saja. Tak jauh dari sini kok. Sederet dengan toko ini,” ucap pria yang rambutnya sudah penuh uban. Mumpung ada orang, saya sekaligus menanyakan lokasi Yagi-tei. ”Ya ini Yagi-tei,” cetus si bapak yang tak sempat saya tanya namanya itu sambil menunjuk bangunan di belakangnya.
Bangunan yang masih tampak megah walau sudah digerogoti umur tersebut merupakan salah satu tempat penting dalam perjalanan karir Serigala Mibu. Yagi-tei adalah rumah pertama yang didiami pasukan Shinsengumi saat baru hijrah dari kota lain ke Kyoto pada 1863.
Sukses mendapatkan stempel Okita Souji, kapten unit 1 sekaligus ahli pedang andalan Shinsengumi di Yagi-tei, saya setengah berlari ke Mibudera. Berkejaran dengan hujan badai campur petir. Kuil yang didirikan biksu Tiongkok Jianzhen pada tahun 688 itu sangat sepi saat saya datang. Selain saya, hanya ada lima turis berbahasa Mandarin yang masuk ke salah satu kuil tertua di Jepang tersebut.
Untuk melihat barang-barang peninggalan Shinsengumi yang tersimpan di lantai bawah tanah dan masuk ke kompleks pemakaman 11 anggota Shinsengumi, pengunjung wajib membayar. Tamu yang berusia di bawah 18 tahun dikenai tiket seharga 100 yen atau sekitar Rp 13 ribu. Sedangkan harga tiket tamu di atas 18 tahun sebesar 200 yen atau Rp 26 ribu.




