Senada warga lainnya, Komarudin (50). Pria yang sehari-hari sebagai buruh angkutan ini menuturkan, tiap kali hujan turun di wilayah tersebut kerap banjir akibat drainase di trotoar itu tak berfungsi dengan normal. “Trotoarnya sudah rusak lagi. Padahal sebulan juga belum,” singkat tukang ojek yang biasa mangkal di depan Puskesmas Cicurug ini.
Selain warga yang menyoal soal kualitas jalan, keluhan juga disampaikan Yayat Suryadi (55). Warga asal Nyalindung Kecamatan Cicurug ini merupakan salah satu orang yang bekerja dalam proyek ini. Yayat bergabung di proyek tersebut baru 1,5 bulan sebagai penagwas alat berat beckho.
Ia mengaku gajinya belum dibayar hingga sekarang ini. “Perharinya itu sesuai dengan kesepakatan, saya digaji Rp100 ribu. Saat saya tagih kepada orang yang mengajak, katanya dari atasnya juga belum dibayar. Bingung saya juga, sementara hutang ke warung ada. Malu saya,” cetusnya.
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sukabumi, Asep Japar menegaskan, untuk pekerjaan proyek trotoar Cicurug ini diputus kontarknya oleh pemerintah Kabupaten Sukabumi.
Pasalnya, progres pekerjaan tidak sesuai dengan kesepakatan dalam kontrak. “Pekerjaan trotoar Cicurug itu cut off dalam posisi 93 persen, karena pekerjaannya yang tidak tuntas, tidak selesai sesuai kontrak. Makanya kita putus,” timpalnya.
Meskipun demikian, Asjap sapaan karibnya, untuk penyelesaian pekerjaan trotoar itu, pihaknya telah memprogramkan kembali pada tahun 2019 ini dengan memperhatikan ketentuan dan peraturan yang ada.






