SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com – Bencana tanah bergerak mengancam kehidupan warga Kampung Babakansirna, Dusun Cihurang, Desa Limusnunggal, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi. Hal ini dibuktikan dengan tanda-tanda seperti tanah ambles, retakan pada lahan pertanian hingga kerusakan pada 15 bangunan rumah warga.
“Warga kami di sini mayoritas penyintas (korban) tanah bergerak di Kampung Toblongan tahun 1984,” ungkap Ketua RT 03 RW 06 Ahmad Rosandi dilansir dari Kompas.com, Rabu (27/11/2019) malam.
Diketahui mayoritas penduduk setempat adalah para penyintas bencana kasus serupa di Kampung Cihurang Toblongan tahun 1984. Saat itu rumah-rumah dan lahan persawahan porak poranda.
Lebih lanjut, Rosandi mengungkapkan pasca kejadian tahun 1984, warga mengungsi ke rumah kerabat atau keluarga. Hingga akhirnya para penyintas merelokasi diri membangun rumah di atas lahan-lahan milik pribadi.
Permukiman baru warga penyintas gerakan tanah ini diberi nama Kampung Babakansirna. Sebelumnya kampung ini hanya ditempati tiga kepala keluarga yang masih kerabat. Lahan kampung baru inipun masih satu hamparan dengan kampung yang diterjang tanah bergerak.
“Sekarang di sini ada lagi tanah yang retak-retak dan dalam serta memanjang tentunya kami merasa was-was. Khawatir peristiwa tahun 1984 kami alami lagi apalagi sekarang menghadapi musim hujan,” ulas Rosandi.
Rosandi menuturkan, pihaknya berharap dilakukannya penelitian dari Badan Geologi untuk mengetahui langkah apa saja yang harus dilakukan ke depan dalam menyikapi bencana ini.
Sementara itu, Maman (55) salah seorang warga sekitar mengakui dirinya juga diliputi rasa khawatir bencana tanah bergerak yang pernah dialami tahun 1984 kembali dialami. Apalagi dalam sepekan ini di beberapa lokasi terdapat retakan tanah seperti yang terjadi pada tahun 1984 lalu.
“Rumah saya juga ada yang retak-retak pada dindingnya,” ungkap Maman.
(int/izo/rs)





