Sementara itu, soal suhu udara terasa lebih panas daripada biasanya akibat kondisi matahari tegak lurus di atas kepala. Kepala Stasiun Meteorologi Citeko Fatuhri memaparkan, suhu lebih panas memang lumrah terjadi di sekitar pertengahan Oktober untuk wilayah Pulau Jawa.
Menurutnya, penyebab utamanya adalah pergerakan semu tahunan matahari. Dimana pada pertengahan Oktober matahari berada di sekitar titik kulminasi maksimumnya. Matahari saat tengah hari berada di setiap pertengahan oktober berada pada elevasi sekitar 90 derajat, atau sering dibahasakan tepat berada tegak lurus di atas kepala.
“Sehingga pengaruhnya di tempat di bumi tersebut panas terasa lebih terik,” katanya.
Namun, lanjut Fatuhri, panas terik tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi setempat. “Dimana jika tertutup awan saat hujan panas terik tidak kita rasakan,” paparnya.
Namun, panas terik ini bukanlah gelombang panas seperti yang saat ini sempat menjadi Viral di medsos. “Fenomena alam ini masih dalam rentang varibilitasnya di bulan Oktober,” tukasnya.
Sementara itu, Koordinator Sarda Kabupaten Sukabumi, Okih Fajri kepada Radar Sukabumi mengatakan, pada pekan ketiga Oktober 2021 ini, wilayah Jawa Barat, khususnya wilayah Kabupaten Sukabumi, diprediksi intensitas hujan sedang sampai lebat disertai angin kencang, kilat dan petir.
“Untuk itu, kami mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan mitigasi bencana. Akibat sikon cuaca seperti itu, dapat menimbulkan kerawanan terjadinya longsor, banjir dan pohon tumbang, bila terjadi hujan disertai kilat dan petir, untuk tidak berlindung di bawah pohon,” pungkasnya. (Den/rb/t)






