Sukabumi Bahal ‘Hareudang’ Sampai Akhir Bulan

Sukabumi-Hareudang
Kondisi panas berlebih yang dirasakan masyarakat Sukabumi ini disebabkan adanya perpaduan antara suhu tinggi dengan kelembapan relatif tinggi.

SUKABUMI – Sejumlah warga di Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi beberapa hari terakhir merasakan cuaca berbeda. Suhu panas dirasa tak biasa sejak siang hingga malam hari.

Cuaca panas dirasakan hampir merata terjadi di beberapa kecamatan bahkan se Kabupaten Sukabumi. “Sudah dari kemarin-kemarin dari pagi hingga malam hari itu terasa panas. Gerah pokoknya.

Bacaan Lainnya

Kata orang tua mah ‘bayeungyang’. Gak tau kenapa tidak seperti biasanya,” ungkap Siti Rohmah (36) warga Kampung Cangehgar.

Hal senada diungkapkan Yayan Bastiar (42) warga Kecamatan Simpenan. Menurutnya, cuaca panas juga dirasakannya tidak seperti biasa, dimana sebelumnya hawa panas hanya dirasakan siang hari.

“Biasanya menjelang malam atau lewat Magrib cuaca biasanya gak terlalu panas. Hari ini terasa beda. Gimana ya, panas gerah lah, tidak nyaman,” timpalnya singkat.

Menanggapi fenomena tersebut, prakirawan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung, Yan F.

Permadhi mengatakan, cuaca panas tidak biasa yang dirasakan masyarakat terjadi merata hampir di semua wilayah termasuk Kabupaten Sukabumi sejak sepekan terkahir. Berdasarkan catatan BMKG, suhu maksimum yang terobservasi berkisar antara 29,6 hingga 31,6 derajat celcius.

“Suhu maksimum ini sudah melebihi suhu maksimum normal yaitu 28,8 derajat celcius. Selain itu, kelembapan relatif yang tercatat oleh BMKG Bandung dalam seminggu terakhir berkisar antara 89 persen-91 persen, dengan nilai normalnya yaitu 88 persen,” ungkap Permadhi.

Dijelaskan Permadhi, kondisi ini diprediksi akan tetap berlangsung hingga akhir Mei atau akhir musim peralihan. Musim kemarau diprediksi akan terjadi pada awal hingga pertengahan Juni 2022.

“Suhu panas ini akibat adanya perpaduan antara suhu tinggi dengan kelembapan relatif tinggi jadi penyebab utama cuaca di Jabar terasa panas.

“Perpaduan antara suhu tinggi dengan kelembapan relatif yang tinggi menjadi penyebab utama mengapa suhu atau cuaca seminggu terakhir ini terasa panas dan gerah,” jelasnya.

Penyebab lainnya juga karena posisi gerak semu matahari yang pada saat ini berada di sekitar Equator, sehingga kondisi pertumbuhan awan di wilayah Jawa Barat dan Pulau Jawa pada umumnya berkurang.

“Dengan berkurangnya jumlah awan di atmosfer, maka energi matahari yang diterima permukaan bumi semakin banyak hingga cuaca pada siang hari terasa semakin panas dan lembap,” terangnya.

“Serta, masih tingginya Suhu Permukaan Laut (SPL) sehingga udara terasa lembap, karena proses evaporasi dan evapotranspirasi masih tinggi,” lanjutnya.

Juga adanya perubahan fase air dari cair menjadi gas, menyebabkan tingkat kelembapan udara di atmosfer menjadi tinggi.

Kelembapan relatif (Relative Humidity-RH) menyatakan perbandingan tekanan uap air dan tekanan uap air jenuh pada suhu yang sama dengan satuan persen. Suhu udaranya tinggi mencerminkan kemampuan menampung uap air juga tinggi.

“Kondisi ini diprediksi akan tetap berlangsung hingga akhir Mei atau akhir musim peralihan. Musim kemarau diprediksi akan segera memasuki Bandung Raya pada awal hingga pertengahan Juni 2022,” tandasnya. (cr2/t)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.