Sementara itu, Kades Sirnaresmi, Iwan Suwandri mengaku, rencana relokasi yang akan dilakukan pemerintah daerah, provinsi dan pusat saat ini dinilai tidak bertentangan dengan adat.
Mengingat, lahan untuk relokasi warga juga tidak jauh dari lokasi saat ini. “Sejauh ini kami menilai rencana relokasi tidak bertentangan dengan adat, selama lahan itu tidak jauh dan rumah yang dibangunnya pun seperti dulu,” pintanya.
Soal bantuan untuk pembangunan rumah, Iwan mengaku masih sangsi. Hal ini mengingat pernyataan tersebut masih wacana atau belum terealisasi. “Kita lihat saja nanti. Saya belum merasa pas, kalau belum terealisasi. Kita doakan supaya apa yang disampaikan beliau, benar-benar terwujud,” harap Iwan.
Sedangkan untuk mengantisipasi terjadinya longsor susulan, satu unit Early Warning System (EWS) dipasang di puncak Gunung Cikaso. Alat ini berfungsi untuk mendeteksi pergerakan tanah dan memberikan peringatan kepada warga terhadap longsor susulan.
Alat ini dipasang di atas ketinggian 960 Mdpl, tepatnya di gunung Cikaso yang amblas pada Senin (31/12) petang dan menimbun 29 rumah warga. Bila terjadi pergerakan tanah, maka dipastikan alat ini berbunyi keras dengan radius 1 kilometer.
“Ini kami pasang untuk mendeteksi pergerakan tanah di ujung mahkota gunung sana. Jadi nanti bila ada pergerakkan tanah atau longsor, alat ini akan berbunyi keras dan terdengar sampai sejauh 1 kilometer lebih,” ujar Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Banjarnegara, Andri Sulistiyo.






