Tujuh kali lamaran kerja ini, sambung Muhammad Rafi, telah ia ikuti melakui rekrutmen link PT GSI Cikembar, seleksi Desa Bojongraharja dan lainnya. “Iya, gak tahu apa alasannya, padahal rumah saya itu jaraknya sangat dengan pabrik PT GSI Cikembar ini. Iya, ada sekitar 100 meteran. Tapi, tetap saja saya gak masuk kerja disana, sementara warga dari daerah lain bisa masuk,” bebernya.
Untuk itu, ia bersama puluhan warga Desa Bojongraharja langsung mendatangi lokasi perusahaan untuk menyampaikan hal tersebut. Kekecewaan warga semakin memuncak, setelah maraknya aksi pungli terhadap warga yang hendak bekerja ke perusahaan PT GSI Cikembar.
“Ada banyak yang nawarin kerja di PT GSI Cikembar itu, cuman itu harus ada uang untuk harganya Rp17.500.000 juta untuk laki-laki. Kalau untuk perempuan agak kurang harganya sekitar Rp10 juta kebawah,” bebernya.
“Ada temen saya yang masuk melalui jalur itu (pungli) tapi nggak ada yang ngejelasin gimana-gimananya, dia nggak berani ngomong. Untuk orang yang punglisnya saya kurang tahu, tapi katanya ada orang HRD yang terlibat di dalam perusahaan tersebut,” timpalnya.
Hingga berita ini diterbitkan Manageman PT GSI Cikembar, belum memberikan keterangan secara resmi terkait aksi demontrasi tersebut. Hingga pukul 14.30 WIB, para peserta aksi masih menduduki bunderan pintu masuk PT GSI Cikembar, untuk menunggu kepastian dari perusahaan tersebut. (Den)






