Pihaknya mengaku, pemerintah Desa Parakanlima sudah berupaya maksimal dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi warga malalui pertanian. Diantaranya mengajukan permohonan bantuan untuk pembangunan permanen bendungan Leuwikaung kepada pemerintah Kecamatan Cikembar dan dinas terkait lainnya. Namun, ironisnya hingga saat ini belum mendapatkan respon yang jelas.
“Iya, dampaknya kasian warga karena hampir 90 persen mata pencaharian warga di wilayah tersebut berprofesi sebagai petani. Bukan lagi gagal panen. Tetapi, tidak bisa ditanami padi. Karena banyak lahan pesawahan warga yang terlantar akibat jebolnya bendungan itu. Kalau untuk kerugian materil ditaksir lebih Rp300 juta,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Kolompok Sari Tani, Nanang Sutisna asal Kampung Cigarung, RT 02/07, Desa Parakanlima, Kecamatan Cikembar menjelaskan, saluran bendungan Leuwikaung merupakan satu-satunya akses air untuk lahan pertanian padi di empat kedusunan yang ada di wilayah Desa Parakanlima.
“Sekarang para petani mengeluhkan kondisi saluran bendungan yang jebol itu. Akibat rusaknya saluran bendungan ini, telah berdampak pada lahan pesawahan warga menjadi tidak maksimal. Bahkan, di Kampung Cigarung ini, terdapat ratusan hektare lahan yang kondisinya retak-retak,” jelasnya.
Di Kampung Cigarung ini, ujar Nanang, terdapat lahan pertanian padi seluas 50 hektare. Namun, setelah bendungan Leuwikaung ini, jebol, hampir seluruh pertanian padi terlantar karena tidak bisa dicocok tanam.
“Kalau musim hujan seperti ini, warga masih bisa bercocok tanam dengan sistem sawah tadah hujan. Itu pun tidak maksimal. Sementara, kalau musim kemarau maka dapat dipastikan lahan disini terlantar,” imbuhnya.






