BERITA UTAMA

Pupuk Selangit, Petani Menjerit

×

Pupuk Selangit, Petani Menjerit

Sebarkan artikel ini

“Dalam setahun, kalau saluran air normal kita bisa memanen padi selama tiga musim.Tetapi, kalau airnya tidak ada. Seperti musim kemarau, dua kali panen dalam satu tahun juga sudah beruntung,” katanya.

Ditempat terpisah, seorang petani warga Kampung Bantarsari, Rt (4/3) Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, Aep Saepudin (48) mengatakan, para petani selain mengeluhkan harga pupuk padi, juga mempersoalkan terkait menurunnya harga gabah yang kerap menurun setiap musim panen raya.

Bank bjb Tandamata

“Seperti saat ini, harga gabah 1 kwintal hanya dijual sebesar Rp420 ribu. Sementara, dihari-hari biasanya dalam 1 kwintal dijual Rp480 ribu sampai Rp500 ribu,” jelasnya.

Mahalnya harga pupuk tersebut, ujar Aep, membuat khawatir para petani. Sehingga bisa menurunkan produksi panennya. Sebab, harga pupuk yang relatif mahal, membuat petani mengurangi pembelian pupuk.

“Selain harganya yang mahal, persediaan pupuk bersubsidi jenis urea, sp-36, za, dan phonska makin langka dan nyaris sulit dicari di kios-kios resmi. Kalau misal di kios Pasar Tradisional Panggeleseran tidak ada, saya terpaksa harus mencari pupuk sampai ke wilayah Kota Sukabumi,” bebernya.

Menurut Aep, apabila kondisinya terus berlarut seperti ini, maka produksi panen bisa merosot seperti massa tanam sebelumnya.