SUKABUMI — Bencana pergerakan tanah di Kampung Cijambe, Desa sekaligus Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, terus meluas dan menimbulkan kekhawatiran. Retakan yang semula kecil kini menjalar, memaksa ratusan warga meninggalkan rumah dan bertahan di tenda darurat dengan segala keterbatasan, terlebih di bulan suci Ramadan.
Camat Bantargadung, Syarifudin Rahmat, menyebutkan jumlah pengungsi terus bertambah. Data terakhir mencatat 104 kepala keluarga (KK) dengan total 324 jiwa dari satu RT terpaksa mengungsi. “Pergerakan tanah ini masih berlangsung. Faktor pemicunya bukan hanya curah hujan tinggi, tetapi juga kondisi tanah dan lingkungan di wilayah atas,” ujarnya, Senin (2/3/2026).
Hasil pengecekan Forkopimcam menunjukkan kondisi lereng di bagian hulu sangat memprihatinkan. Area perkebunan yang gundul tanpa tanaman penahan tanah membuat kestabilan lereng semakin rapuh. “Tanaman di lereng habis terpotong. Saat hujan deras, tanah jadi mudah bergerak,” jelas Syarifudin.
Warga terdampak menceritakan pengalaman mencekam. Diding (64) mengaku awalnya hanya melihat retakan kecil di rumahnya. Namun, retakan itu terus melebar hingga rumahnya rusak parah. “Enggak ada getaran besar, cuma bunyi ‘trak, trak’ dari tembok retak. Itu yang bikin takut,” katanya.
Mahmud (45), warga lain, menuturkan kondisi paling mencekam terjadi saat hujan deras mengguyur tanpa henti. “Malam Jumat hujan enggak berhenti, retakannya jadi besar. Bahkan ada bangunan pesantren yang roboh. Warga panik, langsung pindah,” ujarnya.
Sebagian warga kini mengungsi ke rumah kerabat, sementara lainnya bertahan di posko darurat. Mahmud menyebut jumlah warga terdampak bisa mencapai 170 KK. “Selama 22 tahun tinggal di sini, baru kali ini terjadi bencana seperti ini,” katanya.






