Atau menjalankan opsi kedua dengan membuka kesempatan pengumpulan donasi (fund rising) dari masyarakat. Terakhir opsi ketiga dengan membuka peluang kerjasama investasi.
“Hasil musyawarah, pada intinya kami ingin mempertahankan pondok pesantren dan sekolah ini. Pertama kami tawarkan tanahnya dan kami pindah, atau ada dermawan yang siap dan peduli terhadap dunia pendidikan,” harap Ruyani.
Ponpes Tahfidz Qur’an Humaira ini perintisannya sudah berjalan satu tahun dan saat ini sudah memiliki legalitas dari Kemenag dan Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi sebagai SMP baru dan memiliki dua angkatan siswi santri kelas 7 dan kelas 8. Dimana, kelas-kelasnya merupakan kelas kecil yang intensif.
“Kebetulan yang banyak masuk itu kelompok dhuafa, sehinga untuk makan tidak bisa mengandalkan mereka. Sehingga, kami mengandalkan orang yang bersedekah atau iuran dari para pengurus,” ungkapnya.
Namun begitu, pihaknya mengaku optimis dapat melalui persoalan tersebut. Terlebih jika beberapa opsi yang telah disiapkan terlaksana dengan baik. “Semoga Ponpes SMP Putri Humaira ini tetap ada, kami mohon bantuan kepada semua pihak,” tandasnya.(upi/t)




