Pembagian kue apem sendiri dilakukan sejak mendiang Ki Ageng Gribig hidup dan sepulang dari Makkah al mukaromah.
Kala itu itu karena oleh-oleh yang ia bawa dari Makkah tidak cukup untuk dibagikan kepad amasyarakat, Kiai yang juga dikenal Syaikh Maulana Magribi itu meminta istrinya untuk membuat kue dengan sebutan apem. Kata Apem sendiri diyakini berasal dari saduran kata arab Affan yang artinya memohon ampunan kepada Allah SWT.
Selama ratusan tahun sejak tahun 1600-an, Ki Ageng Gribig telah mewariskan tradisi yang disebut Saparan (bulan kedua penanggalan jawa). Masyarakat setempat juga mengenal dengan tradisi Ya Qowiyyu yang diyakini sebagai simbolisasi doa memohon kekuatan.
Sumber : Jawapos






