Jurnalis Journey Sukabumi Overland 2022, Setitik Perjalanan Menguak Destinasi Offroad Sukabumi (3-habis)

tim JJS Overland 202
Tim JJS Overland 2022 saat melewati rintangan sebelum akhirnya sampai di garis finis.

Penat Terlepas di Puncak Pesta Laut Ciemas Meski Dibuat Senewen dengan Bunyi ‘Terektek’

Perjalanan Jurnalis Journey Sukabumi (JJS) Overland 2022 sepanjang pekan lalu menyisakan lelah luar biasa. Berjibaku dengan banyak rintangan dan hambatan, kelelahan itu terbayar di puncak acara syukuran nelayan Ciemas tahun ini. Meski tak lagi berjibaku dengan obstacle lumpur, sinyal butut membuat kami tak fokus menentukan trip selanjutnya hingga terpaksa diakhiri

VEGA SUKMA YUDHA, Sukabumi

Bacaan Lainnya

PUAS Dengan suguhan kelapa muda dari ‘Uluwatu’nya Sukabumi di Pantai Karang Gantung, trip dilanjutkan. Trek kembali menuju jalan raya kami susuri dengan obstacle ringan sedang. Jalannya memang masih berlumpur.

Hanya, medan tanjakan tak kami temui di sana. Yang ada, di ruas jalan akses utama menuju pantai itu banyak bergelombang dan lumayan membuat kendaraan kami ngesot.

Sesekali, kami harus mengalah dengan kendaraan truk diesel pengangkut gula aren sadapan masyarakat setempat. Di beberapa titik, tiga kendaraan pengangkut rombongan harus maju satu-satu.

Kiki sang road kapten terus memandu kami dengan hati-hati. Tak jarang, di jalan yang agak rata, mesin dipacu seolah-olah sedang balapan di kejuaraan time rally.

Saking semangatnya memacu, kendaraan saya mulai agak aneh. Bunyi ‘terektek’ terasa di roda depan. Saya sudah curiga, ada yang tak beres di as roda depan saat fitur 4×4 dimainkan.

Betul saja, di salah satu obstacle yang tak rata itu, bunyi kaki-kaki semakin tak keruan. Tenaga mesin mobil saya yang besar seolah tak kuat bergerak saat terjerembab di tanah yang dalamnya tak seberapa.

Traaaakkkkk. Alamak, Darwin ‘Entis’ Sandy dan Kresna, dua awak kabin di mobil saya yang turun memeriksa kendaraan memastikan jika putaran roda depan tak main sebelah kiri.

Kiki dan ‘asisten’nya Itoy Fikri sudah menduga jika as roda mobil yang saya pacu bermasalah. Sebab, saat stir bermanuver habis, bunyi asing itu terdengar tak enak di telinga.

Diderek lah akhirnya dengan tali strep. Harga diri saya seolah turun waktu itu. Ya mau bagaimana lagi. Darwin tak henti-hentinya berseloroh. Di dalam kabin, ia menganggap insiden itu hitung-hitung mengetes Tropper sang kapten yang bersilinder mesin 2800 CC. Juga menurunkan harga diri kendaraan saya yang justru kalah oleh Jimny mungil sang jurnalis Net TV Sukabumi, Panji Setiadi.

Dari Pantai Karang Gantung sampai Jalan Raya Ciracap-Surade memang tak jauh. Tiga kilometeran. Tapi diberi medan lumpur, waktu yang kami habiskan hampir satu jam lebih. Setelah melepas tali strep, giliran Kiki menukar posisi saya menyetir.

Sesekali ia merasakan bunyi aneh itu. Saya jujur saja agak senewen. Sebab sebelum trip ini dimulai, finishing kaki-kaki kendaraan sudah saya anggap pas.

Ada beberapa komponen yang malah sudah saya rekondisi baru. Sampai di tempat makan pun, kesenewenan itu masih berlangsung. Amarah lantaran perut kami yang sudah memainkan irama kroncong dan blues nyaris memuncak saat pramusaji tak bisa mengabulkan permintaan saya.

Tim semua sudah tahu jika saya hanya bisa makan telur. Tak mau daging atau ikan karena saya adalah vegetarian kelas dua. Dan permintaan itu pun baru bisa dikabulkan setelah kami banyak berdebat sengit. Hahahahaha.

Rencana awal mengitari Bukit Teletubies menuju Geopark Ciletuh-Palabuhanratu via Cikangkung-Mareleng agar bisa dituju sore hari, akhirnya dibatalkan. Kaki-kaki double cabin yang saya tumpangi harus dibongkar. Jadilah kami mencari spot pinggir jalan yang dirasa pas untuk merecovery mobil.

Tak mau asal memilih tempat, saya yang putuskan agar berhenti di Panenjoan. Landmark utama geopark itu memang cukup terkenal. Amphiteater raksasa kawasan taman bumi ini bisa terlihat di sana.

Di ketinggian 300an mdpl, Desa Ciwaru dan beberapa desa di Kecamatan Ciemas terlihat kecil dari kejauhan. Panorama lautnya juga menggoda bila berpadu dengan kembalinya matahari ke peraduan. Saya rasa, hampir semua anggota tim punya kenangan indah di tempat itu.

‘Alat berat’ montir dari kendaraan sang kapten dan separuh kendaraan saya diturunkan. Sementara beberapa anggota tim lainnya memilih istirahat sejenak sembari menunggu waktu ashar, saya dan Kiki mencoba menelusuri apa yang sebenarnya terjadi. Benar saja, setelah dibuka, penyakit kaki yang kerap terjadi pada kendaraan berpenggerak empat roda ini ketemu.

CV joint as roda depan sebelah kiri hancur tak karuan. Kami pun berinisiatif membongkar sementara komponen penghubung gardan mesin ke poros roda itu. Jadilah mobil saya sedikit banci.

Hanya 3 ban yang akhirnya bisa bergerak. Perjalanan lanjutan di hari ketiga menuju Curug Larangan dan kawasan Kasepuhan Ciptagelar tak ayal kami batalkan.

Sampai di BC utama yaitu Villa Betmen di Pantai Palangpang waktu sudah menjelang magrib. Riuh manusia sangat terasa berbeda di banding hari-hari biasa. Masyarakat Ciemas sedang pesta syukuran nelayan. Puncaknya ya malam Ahad waktu itu. Homestay dan penginapan terlihat full booked. Kendaraan tak hanya ber flat Sukabumi saja.

Jakarta Bandung juga mendominasi. Panggung semi riging sudah berdiri megah di samping area yang akan kami jadikan tempat menginap. Bukan main ramainya. Sepanjang saya memegang event di perusahaan ini (Radar Sukabumi Grup), baru kali ini saya melihat kerumunan manusia begitu banyaknya.

 festival lampion di kawasan Ciwaru, Geopark Ciletuh
Manager Event Radar Sukabumi, Vega Sukma Yudha foto bersama dengan Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi, Ujang Abdurrohim Rochmi atau lebih akrab disapa Ujang ‘Batman’ di festival lampion di kawasan Ciwaru, Geopark Ciletuh.

Tak ada camp hutan yang kami gelar malam itu. Ujang Abdurrochim Rochmi sudah menyiapkan semuanya. Kedekatan tim dengan pemilik nama beken Betmen yang juga Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi ini sudah terjalin lama.

Dia juga ditunjuk sebagai ketua dan penanggung jawab acara di momen hari nelayan yang sukses digelar selama seminggu berturut-turut. Saat kami datang saja ia terlihat sibuk berkoordinasi sana-sini. Maklum, malam hari ada pesta seribu lampion yang menjadi magnet orang-orang datang menjadi saksi puncak acara.

Sejak 2020 lalu, event memang tak boleh digelar karena pandemi Covid. Tapi di malam itu, yang terjadi seolah seperti pecah bisul. Saya dan tim sebetulnya ingin tidur karena perjalanan dan bongkar-bongkaran sudah cukup menguras tenaga. Tapi gelegar kembang api seolah tak memperkenankan kami istirahat buru-buru. Benar saja, di luar riuh manusia memuncak.

Meski sinyal betul-betul membuat kami camutrut saat tiba di peristirahatan, mata kami seolah terobati dengan ‘gerombolan’ lampion yang diterbangkan. Andai ada orang terkasih, suasana itu bisa menambah romantisme yang ahhhhhh, sudahlah.

Dari atas panggung puncak acara, mata semua kerumunan manusia tertuju. A dewan Betmen sang penggagas acara, malah meminta saya untuk turun beraksi ikut meramaikan suasana.

Jadilah lagu pantai milik band reggae Steven Jam saya cover dadakan bersama band eks Goliath yang menjadi bintang tamu di acara itu.

Sebagian anggota tim JJS Overland yang ikut bersama saya ikut berjingkrak menikmati lagu. Mereka seolah lupa apa yang sudah terjadi selama perjalanan berlumpur-lumpur sebelumnya.

Riuh acara masih berlangsung tapi badan kami tak kuat berlama-lama di sana. Sebelum meninggalkan panggung, Dewan Betmen yang mengobrol bersama saya hanya meminta bahwa kelangsungan event hari nelayan Ciemas harus tetap mendapat dukungan semua pihak.

Terlebih, Geopark Ciletuh-Palabuhanratu akan direvalidasi ulang oleh lembaga dunia yang berkutat soal urusan cagar alam dan kepariwisataan, Unesco.

Sepanjang acara, problematika utama di kawasan itu tak lebih berkutat pada soal sinyal. Ya sinyal handphone benar-benar drop. Orang-orang yang saya temui mayoritas mengeluhkan soal itu.

Lantaran, terjadi pada semua provider dan uniknya kerap kumat bila ada event-event besar. Tak elok rasanya, kelas wisata internasional yang sudah dilabeli lembaga sekelas Unesco bisa turun derajat gara-gara persoalan komunikasi yang tak tuntas.

Ini PR. PR bagaimana caranya pemerintah bisa mengajak semua provider memikirkan persoalan ini agar tak terjadi di kemudian hari. Geopark.

Indah pantainya, lautnya, hutannya, pemandangannya dan segalanya tak boleh rusak gara-gara persoalan komunikasi yang terhambat. Ingat idiom ini. Bumi Pasundan khususnya di bagian selatan diciptakan Tuhan saat sedang tersenyum. Kita makhluknya tak boleh cemberut jika persoalan itu tak pernah selesai-selesai. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan