BERITA UTAMA

FKUB Sukabumi Tegaskan yang Dirusak di Cidahu Bukan Gereja, Polisi: Kondisi Sudah Kondusif!

×

FKUB Sukabumi Tegaskan yang Dirusak di Cidahu Bukan Gereja, Polisi: Kondisi Sudah Kondusif!

Sebarkan artikel ini
Suasana saat pelaksanaan musyawarah bersama forkopimda, MUI, tokoh agama, tokoh masyarakat, FKUB, dalam rangka penyelesaian kasus pengrusakan rumah singgah di Cidahu yang digelar Senin (30/6/2025) diaula rapat Makopolres jalan Sudirman, Kecamatan Palabuhanratu.
Suasana saat pelaksanaan musyawarah bersama forkopimda, MUI, tokoh agama, tokoh masyarakat, FKUB, dalam rangka penyelesaian kasus pengrusakan rumah singgah di Cidahu yang digelar Senin (30/6/2025) diaula rapat Makopolres jalan Sudirman, Kecamatan Palabuhanratu.

SUKABUMI  – Kapolres Sukabumi, AKBP Dr. Samian, memastikan situasi di Kampung Tangkil, Desa Tangkil, Kecamatan Cidahu, kini dalam kondisi kondusif pasca insiden pengrusakan rumah singgah yang diduga digunakan sebagai tempat ibadah non-muslim tanpa izin.

Hal ini disampaikan usai musyawarah bersama Forkopimda, MUI, FKUB, tokoh agama, dan tokoh masyarakat yang digelar di Aula Makopolres Sukabumi, Senin (30/6/2025).

Bank bjb Tandamata

“Situasi sudah kondusif. Insiden ini terjadi karena miskomunikasi dan salah persepsi. Saat ini sudah ada upaya rekonsiliasi, bahkan warga secara sukarela memperbaiki kerusakan,” ujar AKBP Samian.

Ia menjelaskan bahwa rumah tersebut secara legal berfungsi sebagai rumah singgah, namun saat kejadian digunakan untuk kegiatan retret yang melibatkan peserta dari luar kota. Kegiatan itu telah berlangsung sejak 26 hingga 28 Juni, dan insiden terjadi spontan usai salat Jumat.

“Tempat itu bukan rumah ibadah, sehingga kegiatan keagamaan dihentikan sementara demi menjaga ketenangan. Komunikasi antar pihak kini berjalan baik,” tegasnya.

Kapolres juga menyebut bahwa pemilik rumah telah membuat laporan resmi, dan kasus ini tengah dalam proses penyelidikan. Namun, pendekatan persuasif dan dialog tetap diutamakan.

Sementara itu, perwakilan FKUB, Pendeta Beresan Bagaring, menegaskan bahwa tidak ada gereja yang dirusak. “Itu bukan ibadah, tapi pembinaan anak-anak dalam rangka liburan. Kami sudah koordinasi dengan camat, kepala desa, dan RT. Semua sudah selesai secara baik,” ujarnya.

Ia berharap kejadian ini menjadi pelajaran bersama untuk menjaga komunikasi dan toleransi antarumat beragama. “Ada hikmah dari semua ini. Mari kita rawat kerukunan yang sudah terbangun,” pungkasnya.(ndi/d)