Persatoean Indonesia terbit dua kali sebulan.
Kedua koran itu, Soeloeh Indonesia Moeda dan Persatoen Indonesia berhenti terbit karena Soekarno dijebloskan ke penjara pada 1929.
Inggit Garnasih, ibu kos yang kemudian menjadi Nyonya Soekarno mengoper Persatoen Indonesia ke Mr. Sartono.
Kwee Kek Beng wartawan yang berkawan dekat dengan Soekarno menulis…
Koran-koran Belanda pada berdjingkrak ketika denger keterangan dari Ir. Kiewiet de Jonge (wakil pemerintah) sebagai saksi dalem perkaranya Ir. Soekarno di landraad Bandoeng.
…keterangannya saksi penting jang tidak memberatken pemimpin PNI, bikin koerang senang pers Belanda, roepanja lebi soeka saksi terseboet bitjara tidak bener, asal saja beratken dosanja Ir. Soekarno c.s, sebab Soekarno moet hangen.
Kwee Kek Beng jurnalis berdarah Tionghoa. Satu di antara legenda sejarah pers Indonesia. Pernah jadi pemimpin redaksi koran Sin Po, tempat W.R. Soepratman, pengarang lagu Indonesia Raya bekerja sebagai wartawan.
Bukannya kapok, bebas dari penjara, Bung Karno menulis Sendi dan Azas Pergerakan Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Dimuat Persatoean Indonesia, nomor 177. Apa lacur, majalah itu langsung dibreidel.
Soeloeh Moeda Indonesia pun diterbitkan lagi pada bulan Mei 1932. Tahun itu juga Bung Karno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo) yang didirikan eks aktivis PNI, 1931.
Partindo lalu menerbitkan koran mingguan Fikiran Ra’jat. Slogannya; Kaoem Marhaen! Inilah Madjalah Kamoe!
Alamat redaksinya di Astana-Anjarweg Nomor 174, Bandung. Nama Soekarno bertengger di puncak sebagai pemimpin redaksi.
Nomor contoh Fikiran Ra’jat terbit pada 15 Juni 1932, sedangkan edisi pertamanya 1 Juli 1932.
Bung Karno menyebut, “Fikiran Ra’jat madjalah politik popoeler.”
Halaman muka majalah ini, senantiasa dihiasi karikatur Bung Karno yang kadang digambar sendiri olehnya. Kadang kiriman dari pembaca (lihat gambar).
Suratkabar ini tutup usia pada 1933, seiring ditangkap dan dibuangnya Bung Karno ke Ende, Nusa Tenggara. Begitu pula Soeloeh Indonesia Moeda.
Ketika Fikiran Ra’jat dibreidel, Kwee Kek Beng dari koran Sin Po dalam rubrik Djamblang Kotjok-nya menulis dengan gaya satir…
Fikiran Rakjat telah dibeslag! Tay Pwee bermoela mentjelos hatinja, sebab ia taoe fikiran manoesia mana bisa dibeslag, tetapi hatinja mendjadi lega kembali koetika ia dapet keterangan jang dibeslag hanja soerat kabar bernama Fikiran Rakjat di Bandung…Meski boekan tida ada jang kaloe bisa, ingin lenjapken fikiran rakjat.
Tiga suratkabar yang didirikan dan dipimpin Bung Karno itu, menurut cerita Roso Daras, oleh tokoh-tokoh lama dijuluki trio majalah, tiga tunggal.
Oiya, Bung Karno mengawali karir jurnalistiknya dengan nama Bima, tokoh pewayangan yang ia gandrungi.
Pernah pula memakai nama pena Soemini. Kenapa Si Bung memakai nama bernuansa perempuan? Ada yang tahu…? (wow/jpnn)






