SUKABUMI — Fungsional Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG Palabuhanratu Andy Rachmadan mengklaim memiliki dua alat pendeteksi gempa bumi yang bisa berakibat tsunami. Alat tersebut, yakni Sensor Seismometer dan Intensitymeter.
“Jadi dua alat itu bisa menghasilkan magnitude, lokasi, waktu, dan potensi tsunami atau tidak atas gempa yang terjadi, kalau secara khusus, alat pendeteksi tsunami adanya di BMKG Bandung,” jelasnya saat dihubungi melalui aplikasi perpesanan, Sabtu (10/10).
Pada dasarnya, kedua alat itu memiliki sistem yang sama. Namun yang membedakan adalah outputnya. Artinya, seismoter outputnya berupa parameter gempabumi, sedangkan intensity meter outputnya berupa tingkat guncangan yang kita kenal dengan Modified Mercalli Intensity (MMI).
“Karena tsunami merupakan efek lanjutan dari gempabumi dengan magnitudo besar. BMKG mempunyai sistem yaitu Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS). Sistem ini berfungsi untuk memberikan peringatan tsunami kepada masyarakat apabila terjadi tsunami,” bebernya.
Adapun cara kerja Seismometer yakni, saat guncangan gempa terjadi akan menghasilkan gelombamg seismik yang bergerak ke segala arah, gelombang tersebut ditangkap oleh beberapa sensor seismometer.
“Gelombang yang ditangkap tersebut dianalisa menggunakan program seiscomp3, didapatkan parameter gempabumi (waktu kejadian, lokasi, magnitude, apakah berpotensi tsunami atau tidak),” terangnya.
Sementara itu, sistem Intensity meter bekerja saat guncangan gempa terjadi menghasilkan gelombang seismik yang bergerak ke segala arah.
“Gelombang tersebut ditangkap oleh sensor intensitymeter, lalu didapatkan tingkat guncangan dari gempa tersebut dalam satuan MMI,” pungkasnya. (upi/d)






