Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan bahwa tidak ada alat deteksi longsor dini di daerah Kecamatan Cisolok. Namun dia meyakini, bahwa longsor di kawasan tersebut pasti diawali dengan retakan. ”Waktu kejadian, masyarakat mendengar suara gemuruh. Lalu ada yang lari,” ungkapnya.
Menurutnya, longsor di kawasan ini cukup unik. Sebab, dari titik awal longsor hingga ke perumahan warga melewati daerah yang tinggi. Kemudian, longsor melebar sebelum akhirnya sampai ke pemukiman. Selain tanah, longsor juga turut menyeret bebatuan. Bahkan ada bebatuan sebesar kendaraan. Menurut perhitungan, dari titik awal hingga longsor berhenti berjarak 800 meter.
Menurut catatan BNPB, selama sepuluh tahun terakhir ada 132 kali longsor di sana. Meski demikian, pemerintah daerah seolah tidak belajar untuk menata ruang. ”Daerah yang rawan itu harusnya menjadi kawasan konservasi yang ditumbuhi tanaman berakar dalam dan tidak ditebang warga,” ujar Sutopo menjelaskan.
Pemerintah, menurut Sutopo, juga telah menerbitkan peta rawan longsor. Peta yang dipublikasikan melakui laman http://vsi.esdm.go.id. menyebut Sukabumi merupakan daerah yang termasuk rawan longsor. Selain daerah rawan longsor, bencana diperparah dengan pengetahuan masyarakat tentang bencana dianggap kurang. Belum semua masyarakat di sana sadar bencana.
”Ketika petugas disana menanyai, rata-rata masyarakat tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika ada bencana,” beber Sutopo. Secara global, banyak daerah di Indonesia yang rawan longsor. Terutama di daerah perbukitan. Total ada 40,9 juta jiwa terancam bencana longsor. Di beberapa daerah sudah terpasang alat deteksi dini. Namun ada juga yang belum.
Proses Evakuasi:
-Dibantu 892 tim gabungan
-Dua anjing pelacak
-Dua alat berat (bakal ditambah dari Kementerian PUPR)
Posko yang Disiagakan:
-Empat Posko Pengaduan
-Posko penitipan barang milik korban
-Posko Kesehatan
-Posko DVI Polda Jabar
-DVI untuk mengindepikasi jati diri koban
Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan:
-Hujan dengan intensitas tinggi yang turun sebelum kejadian gerakan tanah
-Kemiringan lereng yang terjal
-Material penyusun lereng yang bersifat poros dan mudah menyerap air
Kondisi daerah bencana :
-Morfologi daerah bencana perbukitan dengan dengan kemiringan lereng terjal – sangat terjal. Lokasi bencana berada pada ketinggian lebih dari 650 – 800 meter diatas permukaan laut.Disebelahnya terdapat alur sungai kecil.
-Berdasarkan Peta Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat Bulan Desember 2018 (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana sebagian besar masuk ke dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah – Tinggi artinya artinya daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.
-Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sukabumi, Jawa (Sudjatmiko, 1992), daerah bencana disusun oleh Satuan Qvb; Breksi Tapos; Breksi Gunungapi dan Aglomerate.
(lyn/syn/cr1/e)






