Lebih lanjut, Kasbani menjelaskan, meski dikatakan normal, masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Perahu dan pengunjung atau wisatawan sekaligus pendaki, diharapkan tidak mendekati kawah yang ada di puncak Tangkuban Perahu.
“Minimal dalam radius 500 Meter dari kawah aktif atau sekitaran sepanjang area parkir bibir kawah dan tempat berdagang,” jelasnya.
Gubernur Jawa Barat, turut mengingatkan warga sekitar gunung Tangkuban Perahu agar tidak panik dan termakan berita bohong soal erupsi gunung Tangkuban Parahu meski saat ini sudah berstatus normal.
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menyampaikan bahwa, sudah tidak bisa dipungkiri lagi kondisi geografis di Indonesia banyak dikelilingi oleh gunung berapi sehingga potensi-potensi bencana ada. Hal tersebut juga berlaku bagi Jawa Barat.
Menurutnya, dengan potensi bencana yang banyak, sudah seharusnya mitigasi atau kewaspadaan masyarakat harus menjadi gaya hidup, terlebih beberapa masyarakat yang saat ini berada di area terdekat dari gunung Tangkuban Parahu.
“Kita dekat dengan potensi bencana, seperti gempa bumi, letusan gunung berapai dan lain-lain. Kewaspadan harus jadi gaya hidup,”ujar Emil sapaan akrab Ridwan Kamil di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Minggu (28/7).
Emil menjelaskan, sepengetahuannya, tangkuban prahu ini memiliki pola rutin, seperti sebelumnya erupsi sempat terjadi pada 2013. Kemudian disusul kembali pada 2019. Dirasakan dia, pola tersebut harus diwaspadai masyarakat sekitar.
“Polanya harus diwaspadai dengan baik. Kemarin sifatnya lokal wisatawan mungkin bisa menahan diri, Warga di radius 1,5 kilometer harap menghindar jangan panik,”ungkapnya.
Dalam hal pemberian informasi, lanjut Emil, pemerintah dipastikan menjadi garda terdepan dalam memberi informasi yang akurat. Sehingga masyarakat diharapkan dia, tidak mudah terpancing oleh berita yang sifatnya melebihi fakta yang ada di lapangan.
“Jadi jangan terpengaruh berita yang sederamatis, padahal tidak seperti itu. Kemudian masyarakat menahan diri sekarang modal jempol ini sensitif dan bisa lebih dewasa,”ucapnya.
Emil menegaskan, langkah untuk adanya penutupan sementara area wisata gunung Tangkuban Parahu sudah tepat. Mengingat hal tersebut menghindari beberapa risiko terjadinya hal-hal diluar dugaan. “Tutup sementara tidak apa-apa, jangan sampai memaksa terbuka, nanti ada korban,”jelasnya.
Dengan demikian, langkah terdekat saat ini pihaknya akan melakukan beberapa monitoring dengan instansi terkait dan membuat agenda untuk hitung menghitung jangka panjang erupsi gunung Tangkuban Parahu.
“Kita monitor dengan badan vulakanologi yang bisa memprediksi dalam hitungan bulan dan tahun pola erupsinya dan nanti akan di informasikan ke masyarakat,”pungkasnya.
Setelah melihat kondisi pasca erupsi Gunung Tangkuban perahu pada Jumat (26/7) sore, Polda Jawa Barat resmi menutup sementara kunjungan ke Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tangkuban Perahu baik untuk wisatawan domestik dan mancanegara.
Hal tersebut diputuskan oleh Kepala Polda Jawa Barat Irjen Pol Rudy Sufahriadi saat meninjau Kawah Ratu yang merupakan lokasi utama wisata di TWA Gunung Tangkuban Parahu, Sabtu (27/7).
“Setelah kita melihat kondisi didekat kawah setelah mendengar masukan dari seluruh stakeholder kita memutuskan untuk tiga hari ini tidak boleh ada pengunjung,” kata Rudy, Sabtu (27/7).
Rudy menambahkan, setelah tiga hari TWA Gunung Tangkuban Parahu belum tentu dibuka. Menurut dia, jika belum memungkinkan, larangan kunjungan bisa jadi diperpanjang. “Kita akan melihat perkembangan tiga hari ke depan walau sudah ada dasarnya dari PVMBG bahwa statusnya masih normal dan rekomendasi tidak boleh mendekati 500 meter dari bibir kawah,” tuturnya.
Salah satu pertimbangan ditutupnya kunjungan ke TWA Gunung Tangkuban Parahu menurut Rudy adalah masih tebalnya debu-debu vulkanik hasil erupsi.
Meski pihak pengelola PT Graha Rani Putra Persada (GRPP) bersikukuh akan tetap membuka loket kunjungan dengan ketentuan pengunjung hanya diperbolehkan sampai terminal Jayagiri, Rudy tetap melarang pengunjung untuk datang. “Tidak boleh masuk dari bawah. Kita bisa lihat debunya luar biasa, harus dibersihkan dulu,” jelasnya.
Di tempat yang sama, Direktur Utama PT GRPP selaku pengelola TWA Gunung Tangkuban Parahu terpaksa menerima penutupan tersebut. “Semua punya niat baik, jadi nggak salah kalau kita ikuti,” ujarnya.
Putra Kaban menambahkan, pihaknya saat ini tidak memikirkan terkait untung rugi. “Bukan kerugian yang kita utamakan, tapi keselamatan pemgunjung paling utama. Tapi kita lihat, sekarang sudah tenang,” pungkasnya. (azs/bie)






