“Setelah kejadian ia, bersama tiga orang korban langung membawanya ke dokter setempat. Namun karena tidak ada obatnya dan Puskesmas Cijangkar sudah tutup, korban dianjurkan untuk segera berobat ke RSUD R Syamsudin SH.
Ternyata waktu korban dibawa ke rumah sakit, tim medis pun tidak melakukan vaksinasi terhadap para korban dengan alasan bahwa obatnya sudah habis. Mereka hanya diberi obat tetanus saja,” paparnya.
Kepala Puskesmas Cijangkar, Lilis Ilahayati mengatakan, dari keempat orang tersebut, tiga diantaranya telah mendapatkan vaksin antirabies (VAR) dan satu orang lainnya yakni Dedi belum.
“Karena Pak Dedi tidak ada dirumahnya, sehingga kami tidak bisa melakukan vaksin. Informasi dari para tokoh masyarakat, bahwa Pak Dedi ini pikirannya agak terganggu.
Meski begitu, kami tengah berupaya melakukan koordinasi dengan seluruh stakehoalder, mulai dari ketua RT, RW, kepala dusun dan keluarganya, agar korban bisa dibujuk untuk mendapatkan vaksinasi,” pinta Lilis.





