BERITA UTAMA

70 Hektare Lahan Pertanian di Desa Karangtengah Gagal Panen Gara-gara Irigasi Jebol

×

70 Hektare Lahan Pertanian di Desa Karangtengah Gagal Panen Gara-gara Irigasi Jebol

Sebarkan artikel ini
TERLANTAR : Ketua Mitra Air Desa Ciheulang Tonggoh, Dedi (45) bersama petani, saat menunjukan lahan pertanian yang terlantar akibat tidak teraliri air di Kampung Kamandoran, RW 10 Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi pada Selasa (08/04).(FOTO : UNTUK RADAR SUKABUMI)
TERLANTAR : Ketua Mitra Air Desa Ciheulang Tonggoh, Dedi (45) bersama petani, saat menunjukan lahan pertanian yang terlantar akibat tidak teraliri air di Kampung Kamandoran, RW 10 Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi pada Selasa (08/04).(FOTO : UNTUK RADAR SUKABUMI)

SUKABUMI – Puluhan hektare lahan pertanian padi di wilayah Kampung Kamandoran, RW 10 Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, gagal panen. Ini terjadi lantaran saluran Daerah Irigasi (DI) Leuwi Bangga yang berfungsi untuk mengairi lahan pertanian warga, jebol akibat diterjang bencana banjir bandang pada tahun lalu.

Ketua Mitra Air Desa Ciheulang Tonggoh, Dedi (45), menjelaskan bahwa jebolnya irigasi di Kampung Ciheulang Tonggoh berdampak besar terhadap hasil panen petani, khususnya di wilayah Kampung Kamandoran.

Bank bjb Tandamata

“Akibat jebolnya Irigasi DI Leuwi Bangga, petani di Kampung Kamandoran gagal panen di lahan seluas sekitar 75 hektar. Sudah lebih dari dua musim tanam lahan ini tidak bisa ditanami karena tidak ada air,” kata Dedi pada Selasa (07/04).

Dalam satu tahun, sambung Dedi, petani di wilayah tersebut biasanya bisa menanam padi hingga tiga kali. Namun, karena saluran irigasi rusak parah, lahan seluas kurang lebih 70 hektare kini dibiarkan terbengkalai dan tidak terairi sama sekali. “Ini sudah berlangsung sekitar 8 bulan,” paparnya.

Upaya permohonan bantuan telah dilakukan warga kepada pemerintah. Bantuan sempat datang dari BPBD berupa bronjong untuk menahan arus air. Sayangnya, bronjong tersebut hanya bertahan dua bulan sebelum kembali rusak diterjang banjir. Bantuan tambahan berupa 100 bronjong kembali diberikan oleh BPBD Kabupaten Sukabumi, namun hingga kini belum dilengkapi dengan batu dan kondisi saluran irigasi juga belum diperbaiki.

“Lahan di bagian ujung sudah tidak kebagian air. Bahkan sekarang petani sering berebut air untuk bisa sekadar menyiram sawah,” tambah Dedi.

Pihak desa juga telah mengajukan permohonan perbaikan kepada Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), namun hingga saat ini belum ada kejelasan kapan perbaikan bendungan akan dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU).

Akibat gagal panen yang terus berlanjut, banyak petani penggarap terpaksa beralih profesi menjadi buruh serabutan, seperti menjadi tukang bangunan, demi memenuhi kebutuhan hidup.

“Hampir 70 persen warga di kampung ini bekerja sebagai petani. Kami berharap pemerintah segera membangun kembali irigasi yang jebol agar kami bisa kembali menggarap lahan dan mencukupi kebutuhan keluarga,” pungkasnya. (den/d)