SUKABUMI — Malam itu, langit Pangumbahan tampak tenang. Ombak berkejaran di bawah cahaya bulan, sementara Hamid, seorang nelayan setempat, sibuk menurunkan jaring dari perahu fiber bernama Sinar Pagi. Tak ada tanda bahaya, hingga percikan kecil dari kompor yang ia gunakan untuk memasak berubah menjadi bencana.
Dalam hitungan detik, api menyambar bahan bakar yang tersimpan di dekatnya. Kobaran merah-oranye melahap kayu dan fiber, membuat malam yang damai berubah mencekam. Hamid hanya punya satu pilihan: melompat ke laut, meninggalkan perahu yang menjadi sumber penghidupannya.
Beruntung, solidaritas nelayan kembali terbukti. Rekannya yang tak jauh dari lokasi segera menolong, menarik Hamid dari gelapnya laut menuju keselamatan. “Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa,” ujar Asep Jeka, Ketua Rukun Nelayan Ujunggenteng, dengan nada lega.
Namun, perahu Sinar Pagi tak seberuntung sang pemiliknya. Mesin genset, jaring, dan perlengkapan lain hangus terbakar. Kerugian ditaksir mencapai belasan juta rupiah. Setelah api berhasil dipadamkan, perahu yang tinggal rangka itu ditarik menuju Pantai Kalapacondong.






