Ekspedisi Gerakan Anak Negeri (GAN) Tana Toraja (5)

Situs Megalit Bori Kalimbuang
EKSPEDISI: GM Radar Bekasi, Andi Ahmadi saat di Menhir Bori Kalimbuang

Situs Megalit Bori Kalimbuang yang Instagramable

Wisata kematian di Tana Toraja merupakan hal yang menarik dan unik. Sarat dengan sejarah. Kuburan dalam goa, kuburan gantung, kuburan batu dan kuburan pohon untuk bayi.

NIHRAWATI AS, Sulsel

Bacaan Lainnya

LOKASI Bori Kalimbuang terdapat di Desa Sesean. Jarak dari Rantepao 5 km. Di sepanjang perjalanan, wisatawan akan disuguhi pesawahan dan perkampungan yang asri.

Bahkan, saat Tim GAN melintas terlihat ada kegiatan keagamaan. Tampak warga bergerombol memakai pakaian hitam-hitam.

Semakin mendekati Bori Kalimbuang, rumah tongkonan semakin banyak. Terlihat pula beberapa persiapan upacara keagamaan. Ketika rombongan tiba di lokasi Bori Kalimbuang, areal objek wisata ini ramai pengunjung. Rombongan mahasiswa jurusan bahasa Inggris itu memotret dan berdiskusi.

Batu- batu menjulang dengan ukuran yang berbeda-beda menarik perhatian. Cuaca sedang cerah saat Tim GAN berada di lokasi. Membuat batu simbuang berjumlah 102 menhir yang berdiri tegak cocok untuk berfoto. Spot instagramable.

Berada di antara batubatu seperti sedang berada di situs Stonegenge Inggris. Menurut data yang terdapat di bagian depan, Bori Kalimbuang adalah sebuah Rante tempat pelaksanaan upacara adat pemakaman tingkat tinggi bagi orang Toraja. Di lokasi tersebut, terdapat 102 menhir (Simbuang Batu) yang berdiri tegak sebagai penanda dari setiap upacara pemakaman yang diadakan di areal Rante.

Meskipun ukurannya bedabeda ada yang tinggi besar, tinggi kecil, agak pendek, persegi, dan membulat, menhir-menhir yang berdiri tegak ini memiliki nilai adat yang sama.

Upacara pemakaman tingkat tinggi itu dikenal sebagai Rapasan Sapurandanan, yaitu tahapan di mana ketika seseorang meninggal, keluarganya akan mengurbankan kerbau minimal berjumlah 24 ekor dan berisi setidaknya empat jenis kerbau Toraja. Biasanya penduduk yang mencapai tingkat Rapasan Sapurandanan adalah para pemangku adat atau Parenge’ dan bangsawan.

Rante Kalimbuang ini mulai digunakan untuk upacara adat dan upacara pemakaman pada tahun 1617. Di lokasi ini, juga terdapat kuburan pahat, (liangpa’a). Berbeda dengan kawasan pemakaman pada umumnya yang berisi nisan dan kuburan.

Di sini, batulah yang dimanfaatkan penduduk Toraja sebagai penyimpan mayat. Saat Tim GAN berada di lokasi, ternyata belum lama ini telah dilakukan pemakaman.

Terlihat dari Rombongan banyak membawa karangan bunga sebagai ucapan duka. Batu-batu penyimpanan mayat dilubangi dengan cara dipahat.

Kuburan batu tersebut bukan untuk satu jenazah tetapi untuk satu keluarga. Selain dilakukan penguburan, juga dijumpai kuburan batu yang baru dibuat. Melihat kondisinya, kuburan batu itu dibuat sehari sebelumnya.

Semennya masih terlihat basah. Di areal belakang juga terdapat kuburan bayi (passilliran pia) yang terdpat di dalam pohon yang masih hidup. Kuburan bayi dalam pohon sungguh membuat penasaran.

Dari komplek megalit menuju kuburan bayi di dalam pohon, pengunjung menapaki tangga dengan melihat kuburan batu di sepanjang jalan. Tidak adanya pemandu membuat Tim GAN agak kesulitan menemukan kuburan bayi pohon itu.

Sekitar 100 meter dari lokasi menhir, terdapat papan petunjuk baby grave. Namun, tidak ada orang yang ditemui membuat Tim GAN menebak-nebak.

Pohon manakah yang merupakan kuburan bayi. Ketika kami berjalan, terdapat semak belukar di kiri dan kanan.Beruntung ada warga yang lewat. Di belakang Komplek Megalit sendiri, sudah ada perkam –
pungan. Lalu, warga itu menunjuk kan pohon besar yang kami cari.

Di dalam pohon besar itu, terdapat beberapa kuburan bayi. Ada jenazah bayi ditutupi dengan ijuk di badan pohon itu sebagai penanda bahwa di situ ada kuburan bayi.

Salah satu warga yang ditemui mengungkapkan bayi yang belum tumbuh gigi yang dikubur dalam pohon itu sudah dikubur sejak puluhan bahkan ratusan tahun. “Sekarang sudah tidak,” jelasnya.

Objek wisata Bori Kalimbuang adalah salah satu dari sembilan objek yang ditetapkan UNESCO sebagai situs warisan dunia untuk kategori budaya di Toraja Utara. Untuk masuk ke kawasan itu, cukup dengan merogoh kocek Rp15 ribu dan Rp30 ribu untuk wisatawan mancanegara.(**)

Pohon raksasa tempat Kubur Bayi
Pohon raksasa tempat Kubur Bayi

Pos terkait