Bali bak Kota Mati, Malioboro tak Padam oleh Pandemi

  • Whatsapp
Ekspedisi-Gerakan-Anak-Negeri-Malioboro
CEO Radar Bogor Group, Hazairin Sitepu (kanan) bersama musisi jalanan di jalur pedestrian, kawasan Malioboro, Yogyakarta, Jumat (17/9).

Ekspedisi Gerakan Anak Negeri, Menyusuri 5.000 Kilometer Jawa-Bali

Kondisi Pariwisata di Bali dan Yogyakarta, ibarat langit dan bumi. Jika di pulau dewata bak kota mati, kota gudeg, seperti tak ada pandemi.

IMAM RAHMANTO, Bogor

Bacaan Lainnya

Ekspedisi Gerakan Anak Negeri merasakannya sendiri, ketika tiba di kawasan Malioboro, Jumat (17/9) malam. Sepanjang kiri-kanan dari dua arah, dipenuhi pedagang. Mulai dari warung kuliner, oleh-oleh, hingga pedagang kaki lima. Malioboro ramai penjual dan pembeli.

Geliat ekonomi sangat terasa di jantung kota Yogyakarta itu. Berbeda dengan apa yang rombongan Ekspedisi Gerakan Anak Negeri saksikan di Pulau Bali: nyaris mati. (berita tentang kondisi Bali, baca edisi Rabu, 15 September 2021).

Wisatawan bebas berjalan-jalan sembari menikmati dentingan musik dari musisi jalanan. Sesekali, petugas keamanan mengingatkan pengunjung agar tetap mengenakan masker. Tim ekspedisi menyusuri Jalan Malioboro dari ujung ke ujung. Momen makan malam sengaja dilangsungkan di salah satu kawasan populer itu.

Sekadar menikmati denyut pariwisata Yogyakarta di tengah pandemi. “Saya sudah menyaksikan bagaimana wisata di Bali seperti hilang. Hal itu terbalik dengan kondisi Yogyakarta. Seperti tidak ada Covid-19,” ujar Inisiator Gerakan Anak Negeri Hazairin Sitepu di sela-sela menikmati kawasan Malioboro.

Semakin malam, suasana kian ramai. Langkah kaki rombongan Gerakan Anak Negeri makin berat. Bukan karena lelah, tapi tertahan oleh hiburan dari musisi jalanan Malioboro.

“Wakil rakyat seharusnya merakyat. Jangan tidur waktu sidang soal rakyat. Wakil rakyat bukan paduan suara. Hanya tahu nyanyian lagu setuju,” sepenggal lagu dari Iwan Fals itu, menyemarakkan malam Gerakan Anak Negeri di Malioboro.

Kota Yogyakarta memang mulai mendapat kelonggaran setelah berada di status PPKM Level 3. Sebelumnya ketika berada di level 4, lapak-lapak pedagang ditutup. Hanya bisa melayani pesan antar.

Pantai Kuta, Bali
Suasana di sekitar Pantai Kuta, Bali, Selasa (14/9). Pandemi berdampak kepada jumlah kunjungan wisatawan ke Bali.

Sejatinya sebelum tiba di Yogyakarta, rombongan Gerakan Anak Negeri lebih dulu mampir di Magelang, untuk menjelajah Candi Borobudur. Namun, kawasan wisata ini ternyata masih tutup. Sama halnya dengan Taman Nasional Baluran, Banyuwangi, yang juga sebelumnya tidak sempat disambangi karena tutup.

Namun, yang menjadi pembeda adalah para pemandu wisata di Candi Borobudur tidak menyerah dengan keadaan. Mereka menawarkan sejumlah alternatif wisata bagi para pengunjung. Seperti trip ke kawasan Witarka Resto Borobudur. Pengunjung hanya boleh masuk di dalam restoran tersebut dengan pemandangan puncak stupa Candi Borobudur.

Sementara, halaman candi sama sekali tak boleh diakses para pengunjung. Pelancong hanya boleh berfoto di halaman belakang restoran dengan latar belakang puncak stupa Borobudur.

“Kami tidak diperbolehkan masuk. Mudah-mudahan pemerintah secepatnya membuka kembali Borobudur,” ungkapnya pria yang akrab disapa Bang HS ini, yang sempat ingin mengakses tangga pertama Candi Borobudur, namun tetap tidak diizinkan. (mam/d)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *