Menakar PPDB Jalur Zonasi 2024: Antara Idealitas dan Realitas

kang-warsa

Oleh: Kang Warsa

Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) terus mengalami evolusi, dengan salah satu perubahan signifikan adalah penerapan jalur zonasi.

Bacaan Lainnya

Jalur ini dimaksudkan untuk memberikan akses pendidikan yang lebih merata bagi seluruh anak bangsa, dengan memprioritaskan siswa yang berdomisili di sekitar sekolah.

Namun, dalam praktiknya, jalur zonasi menuai berbagai pro dan kontra. Salah satu yang menjadi perdebatan adalah besaran kuota yang dialokasikan dan ketersediaan sekolah negeri di beberapa kecamatan untuk jalur ini.

Kuota Zonasi: Antara Akses dan Prestasi

Menurut hemat penulis, kuota zonasi yang ideal tidak perlu ditambah dan diberbanyak, melainkan dipertimbangkan kembali dan harus lebih kecil dari jalur prestasi. Kuota 50 siswa, cukup untuk memenuhi tujuan awal jalur zonasi, yaitu memberikan akses bagi siswa di sekitar sekolah.

Peningkatan kuota zonasi dikhawatirkan akan memicu ketidakadilan bagi siswa dari wilayah lain, terutama mereka yang berprestasi.

Kementerian Pendidikan (sekolah), sebagai lembaga pendidikan dan ilmiah, seharusnya berfokus pada prestasi rapor dan kejuaraan dalam menentukan penambahan kuota.

Ketepatan Data dan Transparansi Informasi

Hal penting dalam PPDB yaitu ketersediaan data yang akurat dalam penerapan jalur zonasi. Alangkah lebih bijak,  saat pendaftaran, jarak terjauh untuk zonasi dicantumkan dengan jelas, disertai dengan kuota siswa yang dialokasikan. Hal ini diharapkan dapat membantu pendaftar dalam memahami peluang mereka.

Pentingnya Keseimbangan dan Keadilan

Meskipun zonasi dimaksudkan sebagai jalur khusus, namun kita harus menyadari bahwa spesialisasi ini tidak boleh menghilangkan peluang bagi siswa berprestasi dari luar zona.

Idealisme pendidikan, seperti sekolah untuk semua dan perlakuan yang setara, harus tetap menjadi landasan kebijakan PPDB.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *