Manusia Sukabumi

  • Whatsapp

Oleh Kang Warsa

Sebuah pertanyaan yang pernah disampaikan oleh salah seorang teman beberapa tahun lalu masih mengendap apik di dalam diri saya. “Dari mana asal-usul orang Sukabumi?”. Pertanyaan ini merupakan hal mendasar atau jendela untuk memasuki alam dan kehidupan manusia Sukabumi dari berbagai aspek. Hal ini sejalan juga dengan apa yang selalu disampaikan oleh leluhur Sunda, kita harus mengenal dari mana asal kita, hana nguni hana mangké, ada dulu ada sekarang.

Bacaan Lainnya

Meskipun demikian, masih jarang sekali penelitian dilakukan oleh akademisi, budayawan, pemerhati sosial, dan oleh orang-orang Sukabumi sendiri. Membongkar masa lalu orang Sukabumi dan cerita serta kisah yang menyertainya lebih didominasi oleh kisah-kisah di zaman kolonialisme hingga era pascakolonial. Kenyataan ini menunjukkan betapa Manusia Sukabumi Modern mengalami kesulitan mengakses data masa lalu karena tidak ada media penghubung yang dapat menjembatani Manusia Sukabumi Modern dengan kisah masa lalu leluhur mereka.

Akan lebih sulit lagi jika manusia modern dipaksa untuk memasuki kepala para leluhurnya sebagai syarat mutlak untuk mengetahui apa yang terjadi dan dialami oleh para leluhur. Satu kalimat yang pernah ditulis oleh Sejarawan Israel, Yuval Noah Harari masih menggelitik dalam pikiran saya. Harari menyatakan, untuk dapat mengenal baik apa yang terjadi di masa lalu, kita harus bisa masuk ke dalam kepala para leluhur. Memasuki kepala leluhur tentu merupakan sebuah idiomatik atau ungkapan konotatif.

Hal lainnya yang telah memutuskan ikatan antara masa lalu dengan manusia-manusia modern karena jejak-jejak masa lalu leluhur Sukabumi masih sulit dilacak. Jangankan melacak jejak leluhur manusia Sukabumi sebagai entitas kecil, orang Sunda sendiri masih mengalami kesulitan melacak jejak sejarah kerajaan-kerajaan Sunda jika tanpa bantuan literasi yang ditulis oleh orang-orang Jawa dan Belanda.

Orang Sunda sering mengeluarkan alasan hiperbolik saat memaparkan kerajaan-kerajaan di Sunda yang hanya sedikit sekali meninggalkan jejak masa lalu. Alasan yang dikemukakan biasanya, karena kerajaan-kerajaan di Sunda telah ngahyang, tilem, atau menghilang karena dipindahkan ke dimensi lain. Sebagai contoh, jejak masa lalu kerajaan di Sunda dapat ditemukan dalam artefak berbentuk prasasti Ciaruteun, Batu Tulis, dan Candi Cangkuang. Kisah masa lalu kerajaan Sunda juga memang ditemukan dalam beberapa naskah seperti Siksa Kandhang Karesian, Babad Tanah Jawa, walakin tidak sedetail dengan apa yang ditampilkan pada relief candi di daerah Jawa Tengah.

Harapan Baik

Judul opini ini harus diakui terlalu luas, akan lebih baik jika dijadikan judul sebuah buku ilmiah yang dihasilkan dari proses penelitian. Teman-teman budayawan, pecinta sejarah, dan beberapa komunitas telah melangkah lebih jauh untuk mengenal Sukabumi dari berabagai perspektif. Penelitian-penelitian sederhana dan penerbitan buku tentang Sukabumi menjadi harapan baik yang akan mengarahkan Manusia Sukabumi kepada penelitian lebih luas, mengenal Sukabumi dari hulu hingga hilir.

Cerita rakyat, toponimi, dan legenda-legenda Sukabumi mulai digali dan bermunculan sejak era reformasi. Tidak dapat ditawar lagi, keberadaan orang-orang dan komunitas yang telah mencoba mengelaborasi Sukabumi dari berbagai perspektif  harus menjadi bagian integral dari program Pemerintah Daerah terkait pemajuan kebudayaan daerah. Dukungan pemerintah tentu saja tidak sekadar berbasis proyek atau anggaran semata, karena akan dipandang aneh dan terlalu naif ketika orang-orang Sukabumi sendiri harus memperkosa daerahnya hanya karena alasan untuk menggali lebih mendalam tentang Sukabumi.

Pembahasan mengenai Manusia Sukabumi dan peradaban yang menyertainya pun sedapat mungkin harus menghindari sikap dikotomis. Manusia Sukabumi modern merupakan entitas kompleks, beragam, sekaligus heterogen. Ungkapan sensitif seperti penggunaan kata pribumi dan nonpribumi, penduduk asli dan pendatang, sebaiknya dihindari ketika membicarakan Sukabumi.

Manusia Sukabumi Modern belum mampu melacak leluhur mereka secara tepat pasti, maka tidak ada alasan bagi kita untuk mengungkapkan bahwa diri kita yang lebih berhak mengeklaim sebagai penduduk asli atau orang tempatan. Bisa jadi leluhur kita merupakan pendatang di era nomaden atau di masa yang lebih dekat lagi dengan zaman modern.

Karena keterbatasan ruang, opini Manusia Sukabumi ini saya bagi menjadi dua bagian. Selain memaparkan beberapa kendala yang dihadapi oleh orang-orang Sukabumi sendiri di dalam menelusuri asal-usul leluhurnya, pada bagian ini akan dielaborasi bagaimana peran dan partisipasi Manusia Sukabumi di era modern pascakolonial. Peradaban masa lalu leluhur Sukabumi akan penulis elaborasi sebagai dasar pemikiran untuk membuka jendela penelitian oleh siapa saja yang konsern terhadap Sukabumian pada bagian kedua tulisan ini.

Manusia Sukabumi Modern dan Flat Earth

Manusia Sukabumi Modern secara letterlijk merupakan sekelompok orang yang menempati wilayah Sukabumi dengan keberagaman dan keheterogenan latar belakangnya. Manusia yang hidup setelah panggung sejarah dunia melintasi jembatan transisi dari kehidupan tradisional ke modern yang sering dihubungkan dengan semangat rasional yang menggebu-gebu. Meskipun demikian, alam modern sendiri sebetulnya dapat dikatakan baru menyentuh Manusia Sukabumi pascareformasi. Lebih khusus lagi, Manusia Sukabumi Modern merupakan sekelompok orang yang menempati wilayah Sukabumi setelah bersentuhan dengan perkembangan dan kemajuan teknologi serta informasi.

Saya tidak akan mendikotomikan apalagi membenturkan Manusia Sukabumi yang masih memegang teguh tradisi dengan Manusia Sukabumi Modern karena dua kategori ini memiliki ciri, sifat, karakter, dan pemikiran sesuai dengan zamannya masing-masing. Manusia modern sering tidak luput memandang peradaban tradisional harus selalu sesuai dengan versi modern, inilah yang menyebabkan terjadinya benturan pemikiran sampai kepada tindakan. Sementara sebagian kelompok yang masih memegang teguh tradisi lama sering memandang kemajuan sebagai hal mengerikan, keluar dari tetekon atau pondasi dasar tradisi, dan memandang modernitas sebagai sesuatu  yang berada di seberang jalan hingga sulit tersentuh oleh tradisi.

Generasi Y dan Z bisa dikatakan lebih mewakili Manusia Sukabumi Modern. Sementara itu, generasi X merupakan generasi transisi yang harus dapat menjembatani ruh tradisi dengan semangat modernitas generasi Y dan Z. Generasi Y dan Z sudah dipastikan begitu sulit dipisahkan dengan piranti-piranti produk unggulan teknologi dan informasi. Fitur-fitur kehidupannya pun sudah begitu berbeda dengan generasi sebelumnya.

Manusia Sukabumi Tradisional yang hidup beberapa dekade ke belakang masih telaten mengamalkan warisan leluhur mereka, misalnya pencak silat. Generasi Y dan Z tidak demikian, gerakan-gerakan silat dalam kehidupan manusia modern harus mengikuti algoritma yang telah dibenamkan dalam piranti lunak gawai. Maka tidak heran, Manusia Modern Sukabumi lebih memilih gerakan dalam aplikasi Tiktok daripada gerakan pencak silat.

Di era revolusi agrikultur atau tradisi ngahuma , leluhur manusia telah mampu memindahkan medan pertempuran mereka dari alam yang buas ke medan pertanian. Dalam situasi seperti ini, leluhur manusia diharuskan menerapkan strategi baru, bukan lagi melawan dan sangat tergantung kepada alam melainkan harus berkompromi, bersahabat, bahkan mengikuti kehendak alam. Agar tetap survival dan terus berkembang, leluhur manusia mengambil pendekatan baru, untuk mengalahkan alam justru dengan cara mematuhi hukum-hukum alam tersebut. Prantata yang terbentuk di masyarakat dihadirkan dalam berbagai mitos.

Manusia Sukabumi Modern bahkan hampir rata-rata manusia di dunia ini telah mengalihkan kembali strategi agar mereka survival dengan memosisikan diri sebagai penjaga alam, meskipun pada praktiknya cenderung mengeruk alam lantas mencoba menjauhinya. Pranata tradisional di berbagai aspek kehidupan seperti keluarga inti, pendidikan, kemasyarakatan, dan agama direkonstruksi dan ditransformasi ulang menjadi pranata virtual oleh manusia modern.

Para pemuja teori Flat Earth berpikiran bahwa bentuk Bumi yang ditempati oleh manusia benar-benar datar secara fisik, pandangan ini jelas keliru karena teori Geosentris dan Heliosentris yang dilahirkan di era tradisional menyajikan bentuk Bumi yang bulat pepat. Walakin, secara kontekstual melalui penafsiran baru, Bumi tepat tinggal kita saat ini seolah memang telah menjadi lebih datar atau flat dari sebelumnya. Komunikasi antara orang Amerika yang berada di bagian barat Bumi (padahal berada di bawah orang-orang Indonesia)  berjalan lancar dengan orang Sukabumi di bagian Bumi lainnya, seolah-olah Bumi ini begitu datar.

Bumi yang dirasakan semakin mendatar memengaruhi karakter Manusia Sukabumi Modern. Untuk mengetahui tempat-tempat tertentu, Manusia Sukabumi Modern tinggal melihat peta virtual. Jarak dari titik A ke titik B, pada peta virtual tentu saja terlihat begitu dekat dan sangat datar. Pengaruh pandangan Bumi begitu datar ini berimbas terhadap sikap baru; manusia modern cenderung tidak tapat waktu dalam berbagai hal. Tempat-tempat yang dipandang begitu jauh beberapa waktu lalu, di era modern ini dirasakan lebih dekat. Namun kita, manusia-manusia modern tetap saja mengalami kesulitan mengimbangi prilaku manusia tradisional dalam hal ketepatan waktu.

Pos terkait