MANUSIA SUKABUMI (2)

  • Whatsapp

Oleh: Kang Warsa

Beberapa cerita rakyat, meskipun mulai dikenal dan berkembang baru dua dekade ini, dapat dijadikan salah satu penyerta rujukan tentang keberadaan sejarah dan asal-usul Manusia Sukabumi. Pakujajar di Gunungparang adalah salah satu cerita awal keberadaan wilayah atau wewengkon Sukabumi yang ditulis oleh Anis Jatisunda patut dikaji melalui pendekatan ilmiah. Melalui ceirta rakyat ini dapat diketahui latar belakang Sukabumi terbentuk, karakter Manusia Sukabumi saat itu, dan iklim sosial kultural Manusia Sukabumi awal di era pascakeruntuhan  kerajaan Sunda.

Bacaan Lainnya

Bagian pertama opini Manusia Sukabumi telah menyoal eksistensi Manusia Sukabumi Modern secara umum. Pada bagian kedua ini, penulis akan menyajikan kondisi Sukabumi pada zaman nirleka atau prasejarah hingga zaman pra-kolonialisme. Harus diakui, hampir tidak pernah dilakukan penelitian mengenai Sukabumi secara holistik apalagi sampai menyentuh ke alam nirleka atau prasejarah. Hal ini bukan disebabkan oleh tidak ada objek yang harus diteliti, kecuali penelitian seperti ini benar-benar memerlukan waktu, tenaga, dan pikiran, bahkan dapat dikatakan sebagai sebuah proyek besar yang harus melibatkan Manusia Sukabumi Modern dari berbagai latar belakang dan disiplin ilmu.

Zaman Nirleka

Tidak ada seorang pun yang pernah tahu persis seperti apa situasi dan kondisi wilayah atau wewengkon Sukabumi di zaman prasejarah atau nirleka. Kita belum pernah dikejutkan oleh penemuan fosil dan artefak peninggalan masa lalu zaman prasejarah di Sukabumi. Memang ada beberapa cerita rakyat yang dapat menjurus ke era prasejarah, misalnya dalam cerita rakyat Cikundul yang pernah saya tulis disebutkan keberadaan tokoh raksasa atau bhuta dalam dongeng Nyimas Tjai Wangi.

Sosok raksasa memang pernah ada dalam pentas kehidupan di Bumi ini. Penemuan  fosil Megantrophus Paleojavanicus oleh Von Koenigswald atau manusia raksasa dari Jawa dapat menjadi bukti bahwa penyebaran jenis manusia raksasa di daerah Jawa pada 1,9 juta tahun lalu begitu merata.

Sosok manusia raksasa atau Yaksa Purusha juga muncul dalam Naskah Wangsakerta. Harus diakui, naskah ini sendiri masih diteliti orisinalitasnya, namun jika kita membacanya dengan runut, naskah yang diklaim sebagai hasil dari konsensus para mahakawi atau ahli sejarah kuno memiliki sistematika penyajian alur dan lini masa sejarah yang apik.

Eksistensi manusia raksasa atau manusia berukuran besar pada zaman nirleka beririsan dengan kognisi rata-rata Manusia Sukabumi ketika menafsirkan bahwa manusia zaman dahulu memiliki postur tubuh tinggi besar. Umat Islam memercayai tinggi Nabi Adam yang dipandang sebagai manusia pertama adalah 60 hasta.

Pertanyaan mendasar yang dapat dikemukakan yaitu, apakah telah muncul sosok sapiens di Sukabumi pada masa nirleka? Transisi zaman prasejarah ke zaman baru atau era mengenal tulisan ditandai dengan revolusi kognitif dan agrikultur pada 12.000 tahun lalu. Kondisi alam Sukabumi dengan vegetasi alami dan sumber daya hayati yang melimpah membuka kemungkinan cukup besar, di wilayah ini telah terjadi eksodus sapiens atau leluhur manusia dari pelosok lain di era nomaden.

Revolusi agrikultur mengharuskan sapiens Sukabumi yang baru menempati lahan baru untuk membukanya menjadi wilayah bercocok tanam. Hubungan antara era revolusi pertanian dengan masa setelahnya terlihat dari jenis pemukiman dan arsitektur bangunan. Pemukiman  masyarakat agraris membentuk pola terpusat. Hal ini disebabkan oleh kuatnya ikatan kekerabatan dan kesamaan bidang pekerjaan anggota masyarakatnya.

Rumah panggung atau saung yang dibangun berdekatan dengan lahan garapan adalah jenis bangunan adaptif agar sesuai dengan kondisi alam saat itu. Perlu diingat, era revolusi agrikultur merupakan masa sapiens mulai merangkak naik menuju piramida puncak rantai makanan.

Ikatan kekerabatan antar masyarakat yang kuat ini menjadi penyebab anggota masyarakat yang terbentuk di Sukabumi berasal dari keluarga-keluarga inti yang masih memiliki ikatan saudara. Hubungan masyarakat agrikultur dengan alam telah membentuk norma kemasyarakatan yang diverbalkan dalam beberapa pepatah, babasan, dan paribasa.

Akibat kemunculan revolusi agrikultur telah diperkenalkan peribahasa: ulah sok paraséa jeung dulur, bisi pajauh huma, (jangan suka bertengkar atau memendam permusuhan dengan saudara, nanti tercerai-berai). Paribasa seperti itu memang dikenal dalam diksi modern, namun cikal bakal kelahirannya dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat Sukabumi di era revolusi agrikultur yang membuat pemukiman berdekatan dengan areal lahan pertanian (huma).

Pertumbuhan populasi Manusia Sukabumi berkembang secara signifikan di era revolusi agrikultur sampai sebelum era kerajaan-kerajaan Sunda. Beberapa kasus kematian ibu dan anak di saat melahirkan telah menciptakan partikularisasi maternal dengan kehadiran dukun beranak, paraji, atau ma beurang.

Ketangkasan para leluhur dalam menghadapi apa yang terjadi di alam sekitar telah membentuk karakter baik bagi komunitas. Gotong royong atau kebersamaan dalam menghadapi wabah hama dan kesigapan mereka di saat mengusir hewan-hewan perusak tanaman telah melahirkan generasi rancingeus atau cekatan.

Perkembangan selanjutnya, leluhur Manusia Sukabumi mulai melakukan domestikasi sejumlah binatang buruan. Kerbau hutan dipelihara, unggas diternak agar beranak pinak. Kekuatan kerbau (kebo, munding) dimanfaatkan oleh Manusia Sukabumi untuk mengolah lahan pertanian.

Beberapa abad kemudian setelah revolusi agrikultur nama-nama binatang yang memiliki kekuatan ini disematkan kepada nama manusia hebat di Nusantara. Mundinglaya, Gajahmada, Jalak Harupat, Kebo kenanga, dll merupakan nama-nama pesohor Nusantara yang berkembang di masyarakat agraris setelah kemunculan komunitas lebih besar bernama kerajaan.

Era Sejarah

Zaman sejarah dilahirkan dari rahim peradaban manusia setelah mengenal tulisan. Penyajian simbol ke dalam berbagai media, transformasi ungkapan verbal ke dalam aksara, dan penyampaian komunikasi melalui tulisan. Peradaban besar selalu dilahirkan di lingkungan masyarakat yang telah mampu mengatur alur komunikasi dan mengembangkannya menjadi informasi bagi anggota masyarakat lainnya.

Kita sulit mengelak untuk mengatakan para leluhur Manusia Sukabumi dan Manusia Sunda sebagai manusia hebat. Hal ini ditandai dengan kelahiran aksara yang diciptakan oleh leluhur Manusia Sunda. Manusia Modern Sukabumi di era milenial ini, saya pikir, belum mampu menciptakan aksara baru seperti yang pernah dilakukan oleh para leluhurnya.

Sebutan Agryre atau negara perak oleh Ptelomeus  untuk  wilayah Sunda bagian barat (Bogor dan Sukabumi) bukan tanpa alasan. Kerajaan besar yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan sejarah berikutnya di Tatar Pasundan bernama Salaka Nagara berdiri pada tahun 200 M di wilayah ini.

Sebutan negara perak ini memang tidak selalu harus diberi makna denotatif. Secara metafora, agryre berarti wilayah berkemilau, dalam tradisi Sunda disebut Cai. Istilah Cai tidak merujuk secara langsung pada air. Cai merupakan pantulan cahaya matahari ketika menyentuh permukaan air. Di dalam tradisi Sunda, air sebagai zat memiliki padanan kata yang lebih tepat yaitu banyu. Terdapat banyak nama wilayah sentral pemukiman diberi nama berawalan Ci di Sukabumi dan tatar Pasundan ini.

Partikularisasi wilayah penduduk Sukabumi para perkembangan selanjutnya, merujuk pada naskah Pakujajar di Gunungparang secara tersirat didomininasi oleh akar kegiatan mereka sebagai manusia agraris. Meskipun dalam narasi cerita ini tidak menyebutkan kapan dan waktu peristiwa pembukaan lahan yang miring ke arah selatan oleh Wangsa Suta, walakin dapat dikorelasikan dengan peristiwa pascakeruntuhan kerajaan Pajajaran.

Permintaan Nyai Pudak Arum kepada Wangsa Suta untuk membuka lahan baru mengindikasikan emansipasi wanita yang baru didengungkan dan diregulasikan di Eropa pada awal abad ke 19 telah membumi di wilayah ini. Rata-rata cerita rakyat yang berkembang di Tatar Sunda diwarnai oleh gerakan emansipasi wanita dalam adegan klimaksnya, seorang perempuan memberikan syarat kepada lelaki yang akan menikahi dirinya.

Rangkaian cerita ini sangat memengaruhi kehidupan Manusia Sukabumi, seorang perempuan tidak mudah dilamar dan dinikahi begitu saja oleh lelaki bahkan tidak jarang perempuan ditempatkan pada posisi terhormat, tidak boleh disentuh oleh sembarangan lelaki sebelum menikah. Patut disayangkan, etika ini mulai luntur setelah mayoritas masyarakat tradisional dikungkung oleh nilai aristokrasi yang dibawa oleh para pendatang  Eropa.

Sikap superioritas lelaki dan intervensi mereka kepada kaum perempuan begitu kental dalam kehidupan masyarakat melalui ungkapan: tugas perempuan itu hanya di sumur, dapur, dan kasur. Etika seperti ini tidak pernah dikenal oleh Manusia Sukabumi sebelum mereka berinteraksi dengan budaya lain yang belum mengenal konsep emansipasi perempuan.

Manusia Sukabumi sejak era nirleka hingga sekarang merupakan rangkaian cerita saling berkesinambungan. Hubungan yang erat antara masa lalu dengan masa kini dapat ditelusuri melalui percikan atau sisa-sisa etika dan norma yang masih berkembang di masyarakat sampai sekarang.

Pos terkait