Guru 4.0,Tuntutan Dunia Pendidikan

  • Whatsapp

Oleh : Hema Hujaemah, M.Pd
(Kepala SMPN 11 Kota Sukabumi)

Jika Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, tepatnya bulan Desember 2018. Sudah melaunchingkan program Sekolah Jabar Juara (SEJAJAR). Sebagai inovasi layanan pendidikan menengah di Jawa Barat, yang memberikan peluang seluas-luasnya kepada seluruh masyarakat di Jawa Barat dalam mengakses layanan pendidikan.

Bacaan Lainnya

Tentunya pendidikan dasar di kota/kabupaten tidak boleh kalah untuk berinovasi. Baik yang dilakukan oleh guru, maupun instansi terkait penyelenggaraan pendidikan. Hal ini dilaksanakan sebagai upaya pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan industri. Selain itu pemanfaatan teknologi yang mendukung terhadap sistem pembelajaran yang efektif dan efisian.

Di dalam Undang-Undang RI Nomor 20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 6 (2). Menyatakan bahwa setiap warga negara bertanggungjawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan. Artinya siapapun yang merasa sebagai warga negara perlu memiliki rasa tanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan. Saya sebagai bagian dari warga Jawa Barat sangat mengapresiasi program tersebut. Mendukung dan mempunyai keinginan untuk berperan aktif dalam mewujudkannya.

Namun ada sedikit yang mengganggu pikiran saya. Apakah akan lebih baik jika program ini didukung juga oleh program inovasi di level pendidikan dasar? Sebab, memberikan pelayanan yang baik pada level pendidikan dasar, dapat dijadikan aset untuk level pendidikan berikutnya. Sesuai amanat Undang-Undang RI Nomor 20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 6 (1).

Menyatakan setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Artinya siapapun warga negara yang masuk kategori usia di atas, wajib mengenyam pendidikan dasar mulai SD sampai SMP dengan segenap hak dan kewajiban yang melekat di dalamnya.

Jadi jelas bahwa pendidikan dasar sebagai pondasi bagi jenjang pendidikan selanjutnya. Secara logika, pendidikan menengah akan baik, jika pendidikan dasarnya baik, atau sebaliknya. Ini berarti, kualitas proses dan hasil pendidikan pada level dasar, akan berpengaruh pada kualitas pendidikan menengah dan selanjutnya.

Ketika seorang peserta didik memasuki usia sekolah, baik pendidikan usia dini maupun pendidikan dasar. Mereka mulai mendapatkan pendidikan dari orang tua keduanya di sekolah. Baik kognitif, afektif, maupun psikomotor. Mereka dididik, diajar, dilatih, dan dievaluasi lebih dari apa yang diperolehnya di rumah masing-masing. Hal ini sebagai modal dasar penanaman kompetensi yang dimiliki peserta didik untuk mempersiapkan persaingan di jenjang berikutnya.

Kompetensi yang diperoleh peserta didik pada pendidikan dasar akan berpengruh besar terhadap kualitas pendidikan menengah. Walaupun sekarang pendidikan menengah pengelolaannya oleh pemerintah provinsi, namun pendidikan dasar tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan menengah. Tidak akan ada pendidikan menengah, jika tidak melewati pendidikan dasar terlebih dahulu.

Jika kita telah mengenal revolusi industri 4.0. Sebagai era inovasi disruptif yang mampu menciptakan pasar industri baru. Lebih dahsyat dan mampu menggantikan teknologi yang sudah ada.

Begitupun dalam dunia pendidikan, tidak boleh kalah dengan kemajuan teknologi. Insan pendidikan harus mampu men-design thinking. Berpikir ala disruptor sebagai upaya mengimbangi tuntutan zaman. Alangkah baiknya jika dunia pendidikan tercipta menjadi pendidikan 4.0 yang bercirikan pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran secara kontinu tanpa batas ruang dan waktu.

Menghadapi era revolusi industri 4.0 atau dikenal dengan era digital. Sudah saatnya kita mengubah paradigma proses pembelajaran di dalam kelas menjadi suatu proses yang penuh dengan pengalaman. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berkolaborasi dengan guru dan temannya.

Membangun dan mengorganisasi pengetahuan, melibatkan diri dalam penelitian. Belajar menulis dan menganalisis serta mampu mengkomunikasikan apa yang mereka alami sebagai suatu pemikiran baru wujud dari pengalaman.

Guru di era ini mempunya posisi yang strategis. Mereka sebagai orangtua kedua yang dituntut mampu membimbing peserta didik mengarungi lautan informasi. Guna menemukan ilmu pengetahuan, di tengah hingar bingarnya revolusi industri 4.0, guru berdiri sebagai pusat transformasi. Sebagai garda terdepan dalam dunia pendidikan, guru harus mampu meng-upgrade kompetensinya dalam menghadapi era pendidikan 4.0.

Peserta didik yang dihadapi oleh guru saat ini adalah generasi milenial yang tidak asing lagi dengan dunia digital. Mengingat tantangan tersebut, maka guru harus terus belajar meningkatkan kompetensi sehingga mampu menghadapi peserta didik zaman now. Jangan sampai terjadi, jika peserta didik sekarang berada di era industri 4.0, belajar dalam ruang industri 3.0, diajar dan dididik oleh guru era industri 2.0 atau bahkan 1.0.

Maka sudah jelas pendidikan kita akan terus tertinggal dibandingkan negara lain yang telah siap menghadapi perubahan besar ini. Kualitas guru harus sesuai dengan performa guru yang dibutuhkan dalam era industri 4.0. Idealnya gurupun harus menjadi guru 4.0. Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya ingin mengajak, marilah ciptakan inovasi pembelajaran di level pendidikan dasar. Agar menjadi guru 4.0, di dalam dunia pendidikan 4.0, untuk mengimbangi revolusi industri 4.0.

Bertepatan dengan moment menyambut tahun baru 2019. Guru tidak perlu menunggu, mulailah dari diri sendiri untuk berinovasi. Lakukan tugas profetik, ada amanah besar di sana. Kebermanfaatannya suatu saat akan kembali pada kita semua yang cinta profesi, tanah air dan bangsa.

Berikut beberapa inovasi dalam pembelajaran era pendidikan 4.0, menuju guru 4.0. Semoga dapat bermanfaat dan secara bertahap dapat diterapkan dalam dunia pendidikan mulai pendidikan dasar, dan menengah.

Pertama: Guru mampu mengembangkan critical thinking and problem solving (keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah). Guru dituntut bisa meramu pembelajaran untuk mengeksplor kompetensi peserta didik. Diantaranya dengan cara memberikan penjelasan sederhana, membangun keterampilan dasar, dan menyimpulkan.

Kedua: Guru mampu mengkontruksi pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi sebagai upaya mengkontruksi communication and collaborative skill (keterampilan komunikasi dan kolaborasi). Dengan cara diskusi, permainan edukatif, brainwriting, bercerita, dan tugas/proyek kelompok.

Ketiga: Guru mampu mengembangkan creativity and innovative skill (keterampilan berpikir kreatif dan inovatif) agar peserta didik selalu berpikir dan bertindak kreatif dan inovatif. Sehingga mampu bersaing dan suatu saat mampu menciptakan lapangan kerja. Kondisi ini diperlukan mengingat sudah banyak profesi yang digantikan oleh mesin digital, ketika hal ini terjadi, mereka siap menemukan atau menciptakan lapangan kerja sendiri dengan kompetensi yang mumpuni. Diantaranya dengan cara: mengembangkan sikap apresiatif, respek terhadap ide dan solusi, mendengarkan dan mempertimbangkan, serta membudayakan membaca dan menulis.

Keempat: Guru mampu menjadi literator Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang baik agar tidak tertinggal oleh peserta didik. Information and communication technology literacy (literasi teknologi dan komunikasi) menjadi kewajiban bagi guru. Agar mampu menghasilkan peserta didik yang siap bersaing dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Diantaranya dengan cara: guru menguasai TIK, ketersediaan bahan ajar berbasis TIK, ketersediaan media TIK.

Kelima: Guru mampu menerapkan contextual learning skill (pembelajaran kontekstual). Jika guru sudah menguasai literasi TIK, maka pembelajaran kontekstual era pendidikan 4.0 akan mudah dilakukan. Materi pembelajaran yang sulit dan abstrak mampu disajikan lebih real. Kontekstual dengan kehidupan sehari-hari peserta didik menggunakan TIK.

Keenam: Guru mampu memanfaatkan information and media literacy (literasi informasi dan media) dalam pembelajaran. Banyak media informasi yang digandrungi oleh peserta didik yang dapat digunakan menjadi media komunikasi antara peserta didik dan guru. Media sosial menjadi salah satu media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan guru. Kehadiran kelas digital membantu pembelajaran tanpa batas dan waktu.

Guru harus siap menghadapi era pendidikan 4.0, meskipun disibukkan oleh beban kurikulum dan administrasi yang banyak. Jika tidak, maka generasi muda kita akan terus tertinggal. Efeknya tidak mampu bersaing menghadapi implikasi revolusi industri 4.0. Mari niatkan mulai saat ini, dari diri sendiri, untuk berinovasi. Mengembangkan dan meningkatkan kompetensi. Sabisa-bisa, pasti lebih bisa….

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *