ARTIKEL

“Sel Raksasa”, Sel Kanker yang Hidup Kembali

×

“Sel Raksasa”, Sel Kanker yang Hidup Kembali

Sebarkan artikel ini

Oleh : Nabila Putri Utami
Mahasiswi Pendidikan Biologi UPI

Kanker menjadi hal yang cukup menakutkan bagi masyarakat saat ini. Pasalnya, penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang mematikan di dunia. Dilansir dari Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI (2015) pada tahun 2012 tercatat sekitar 8,2 juta kematian di dunia disebabkan oleh kanker.

Bank bjb Tandamata

Kanker paru-paru, kanker hati, kanker perut, kanker kolorektal, dan khususnya kanker payudara di Indonesia adalah penyebab terbesar kematian akibat kanker setiap tahunnya dengan angka kematian yang mencapai 150 ribu kasus per tahun.

Apa bedanya tumor dan kanker? Secara umum tumor dibedakan menjadi dua jenis yaitu tumor ganas dan tumor jinak. Tumor biasanya bersifat heterogen dan di dalamnya mengandung sel kanker dengan ukuran yang berbeda, serta DNA yang berbeda pula. Tumor terjadi jika sel-sel tubuh membelah dan tumbuh secara berlebihan.

Apabila pertumbuhan sel tersebut hanya terjadi pada bagian tubuh tertentu dan tidak menyebar disebut sebagai tumor jinak dengan ciri-ciri yaitu, tumbuh secara terbatas dan memiliki selubung, tidak menyebar dan bila dioperasi dapat dikeluarkan secara utuh sehingga dapat sembuh sempurna.

Sementara jika sel tumor menyebar ke bagian tubuh lain disebut tumor ganas atau kanker, ciri-cirinya yaitu mudah menyebar dan dapat menyusup ke jaringan sekitarnya.

Jika sel-sel kanker mengalami kondisi tertentu yang dapat memicu pertumbuhannya seperti radiasi atau bahan-bahan kimia tertentu maka sel-sel tersebut bisa menjadi tumbuh membesar lalu memasuki keadaan dormansi (istirahat) atau disebut sebagai sel-sel kanker raksasa. Saat sel-sel kanker raksasa berhenti memperbanyak diri atau tetap berkembang biak dengan sangat lambat, mereka sering dinilai “mati” dalam tes praklinis konvensional.

Namun, sel kanker raksasa yang telah memasuki keadaan dormansi tetap berpotensi dan dapat tumbuh lagi menjadi sel yang sama dengan sel induknya.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Mirzayans, Andrais & Murray (2018) dilaporkan bahwa pengobatan sel kanker payudara dengan obat kemoterapi berupa oxilaplatin dan paclitaxel menghasilkan perkembangan sel-sel kanker raksasa.

Penelitian tersebut berfokus untuk melihat proses perbanyakan diri dari sel-sel kanker yang dilakukan di laboratorium penelitian medis menggunakan perbandingan obat-obatan kemoterapi salah satunya yaitu cisplatin.

Pada penelitian tersebut, menunjukkan hasil bahwa agen teurapetik atau senyawa yang digunakan untuk pengobatan kanker yang diberikan pada pasien dengan dosis yang relevan secara klinis ternyata dapat meningkatkan perkembangan dari sel raksasa pada frekuensi yang tinggi dalam garis sel tumor yang diturunkan dan hampir semua sel raksasa itu tetap hidup dan mampu tumbuh walau dengan kecepatan yang lambat hal tersebut ditunjukkan dengan kemampuannya untuk memetabolisme MTT.

Temuan ini meningkatkan kekhawatiran bahwa sel-sel kanker raksasa mungkin berkontribusi untuk metastasis kanker atau penyebaran sel kanker ke tempat lain di dalam tubuh, resistensi terapi atau ketahanan sel kanker setelah diobati, dan kambuhnya penyakin pasien.

Pengujian sel tunggal yang digunakan pada penelitian ini seharusnya bermanfaat untuk mengidentifikasi obat yang mampu membunuh sel kanker raksasa sebelum mereka memiliki kesempatan untuk meningkatkan kembali populasi tumor.

Secara umum, hasil ini memperkuat gagasan bahwa penargetan sel-sel kanker yang tidak aktif adalah strategi yang menjanjikan untuk mencegah kambuhnya penyakit setelah pengobatan kanker konvensional.

Pengobatan kanker melalui obat kemoterapi tidak menjamin kesembuhan pasien 100 persen karena tidak jarang pasien yang telah tuntas menjalani pengobatan kembali mendapatkan kankernya kambuh kembali.

Hal tersebut dikarenakan saat pemeriksaan klinik, sel kanker yang dianggap telah sembuh tersebut bukan benar-benar “mati” tetapi sedang dalam fase dormansi atau nonaktif atau bisa saja dikarenkan tidak semua sel kanker benar-benar “mati” namun masih ada beberapa sel yang mampu bertahan dan dapat tumbuh lagi.

Sehinga setelah kemoterapi, pasien kanker yang sudah sembuh sekalipun disarankan untuk terus melakukan kontrol dalam waktu yang ditentukan dan harus selalu menjaga gaya hidup sehat untuk meminimalisir resiko pertumbuhan “sel raksasa” kanker yang dapat hidup kembali. (*)