Terutama Chunichi Shimbun. Koran terbesar di Jepang Tengah. Di Nagoya: bagaimana koran daerah bisa mengalahkan koran ibukota di daerahnya. Saya ikuti kiat-kiat Chunichi Shimbun. Sampai berhasil.
Yang memotret Rustono itu rajanya koran di seluruh Jepang: Yumiuri Shimbun. Itulah titik balik Rustono. Dimuat di koran besar. Satu halaman pula. Restoran-restoran yang pernah ia datangi kaget. Membaca koran itu. mereka pada tilpon. Memesan tempenya. Mereka simpati pada Rustono.
Bukan soal kehebatan tempenya. Tapi pada besarnya tekad anak Indonesia itu. Dalam membangun mimpinya. Di koran tadi kisah tentang tempenya hanya sekilas. Yang banyak justru tentang impian seorang manusia muda. ”Dari tulisan itu saya belajar. Menjual tempe ternyata tidak harus bercerita tentang tempe,” ujar Rustono.
Sejak itu tempenya terus berkembang. Kini Rustono punya tiga lokasi pembuatan tempe. Semuanya di daerah pegunungan. Dekat rumahnya. Yang sumber airnya banyak. Yang pemandangannya indah. Di setiap lokasi itu dilengkapi cool storage. Sekali bikin tempe: 1,5 ton kedelai.
Tidak tiap hari ia bikin tempe. Saat saya ke lokasi No 3 nya, tempenya masih tampak kedelai. Di bungkusan-bungkusan plastik. Di jejer-jejer di rak-rak. Baru sehari sebelumnya dibuat.
Rustono baru membuat tempe lagi kalau yang 1,5 ton itu hampir habis terjual. Dan itu tidak lama. Hanya seminggu. Ada pengukur suhu du ruang itu: 35 derajat. Ada tiga kipas angin. Yang bergerak semua. ”Itu untuk memutar udara agar suhunya merata,” ujar Rustono.



