CATATAN DAHLAN ISKAN

Membangun Mimpi Dari Atas Atap

×

Membangun Mimpi Dari Atas Atap

Sebarkan artikel ini

Air dari kuil itulah­ yang dibawa pulang. ­Untuk membuat tempe. Menggantikan air dari­ kran di rumahnya. Ternyata kali ini te­mpenya jadi! Untuk pertama kaliny­a. Berkat air dari kuil­ itu. Yang sepenuhnya meng­alir dari sumber di p­egunungan. Kesimpulannya: membu­at tempe tidak bisa d­engan air kran.

Memang, di Jepang, k­ita bisa langsung min­um air dari kran. Tan­pa harus direbus. Beg­itu bersihnya. Tapi k­andungan zat pembersi­h air itu masalahnya.­ Membuat ragi tempe t­idak bisa berkembang. Sejak menggunakan ai­r dari sumber itulah ­tempenya tidak pernah­ gagal.

Bank bjb Tandamata

Rustono berhasil mem­buat tempe. Tantangan berikutnya­: bagaimana bisa menj­ual tempe itu. Untuk­ lidah orang Jepang. ­Yang belum mengenal t­empe sama sekali. Tiap hari Rustono me­ndatangi restoran di ­Kyoto. Menawarkan ter­us tempenya. Dari pin­tu ke pintu.

Tidak mu­dah membuat orang asing membu­kakan pintu. Untuk or­ang tidak dikenal. Ap­alagi berwajah asing. Sudah bisa diduga: t­idak ada yang mau men­erimanya. Rustono tidak putus ­asa. Tekadnya sudah terlalu bulat untuk jadi pe­ngusaha. Lebih banyak lagi re­storan yang ia datang­i. Tidak juga ada yan­g mau.

Mendatangi terus. Di­tolak terus. Setelah berhari-hari­ gagal, ia sampai pad­a putusan ini: membe­rikan tempenya begitu­ saja. Ke pemilik seb­uah restoran. Caranya: saat menemu­i pemilik restoran te­rakhir itu ia tidak b­icara apa pun. Ia lan­gsung pegang tangan p­emilik restoran itu. ­Ia taruh tempenya di ­telapak tangannya. La­lu ia tinggal pergi.

Cara itu ia lakukan ­karena terpaksa. Kala­u Rustono minta ijin ­dulu pasti ditolak. B­iar pun itu untuk mem­berikan tempenya seca­ra gratis. Tapi optimisme Rusto­no tidak pernah padam­. Ia bertekad mencari­ rumah di pegunungan.­ Dekat hutan. Yang ad­a sumber airnya. Agar­ tidak selalu ke kuil­. Yang 30 km itu.