“Indikatornya bisa dilihat di dunia maya, dimana sejak 2014 sampai saat ini, netizen seolah terbelah antara kubu Jokowi dan Prabowo. Cacian dan hujatan semakin hari bukannya menurun, justru menunjukkan grafik yang mengkhawatirkan,” jelasnya.
Padahal, lanjut Zaenal, sebelumnya sosial media diharapkan membawa perdebatan cerdas dan sportif yang sebelumnya hanya ada di kampus, menjadi bisa dinikmati banyak kalangan, khususnya generasi milenial.
“Saya melihat AHY merasa situasi seperti itu seharusnya tidak terjadi bila revolusi mental sukses dijalankan,” sambungnya.
Lantas apa yang bisa kita tangkap dari kritik AHY ke Jokowi saat Pilpres 2019 kian dekat? Zaenal berpandangan, Partai Demokrat sepertinya ingin mengirim pesan kepada Jokowi dan koalisinya untuk tidak terlalu berharap agar Partai Demokrat masuk koalisi.
“Pidato-pidato Jokowi yang kerap menyalahkan masa lalu sepertinya turut mempengaruhi perubahan sikap Partai Demokrat ini,” imbuhnya.
(aim/JPC)





