“Guru ABK kalau dilihat dari indikator indikator yang ada sebetulnya belum cukup ideal, karena dari latar belakang, tidak semua guru sekolah luar biasa maupun guru yang bertugas disekolah penyelenggara pendidikan inklusif itu, berlatar belakang pendidikan khusus, itu bisa dipahami karena memang prodi pendidikan khusus baik negeri maupun swasta di Indonesia masih sedikit,” imbuhnya.
Juga, kata Dr. Lalan didalam implementasi pembelajaran sangat dinamis sekali, sehingga kebijakan kebijakan, maupun pengembangan yang berhubungan dengan pembelajaran itu terjadi maka otomatis guru guru itu harus mengupgrade kembali kebutuhan hari ini.
“Yang tentunya akan berbeda dengan tahun tahun sebelumnya, jadi sangat dinamika sekali,” ucapnya.
Menanggapi kegiatan tersebut, Dini Handayani Kepala Sekolah SLBN Surade juga Plt di SLBN Mutiara Bahari Mandiri mengapresiasi dan menyambut baik, menurutnya memang diperlukan sinergitas berbagai elemen termasuk kampus ataupun mahasiswa agar tercipta pendidikan untuk disabilitas atau ABK sehingga memiliki masa depan yang lebih baik.
“Kami sangat menyambut baik, untuk menciptakan sinergitas antara kampus dengan kami yang dilapangan,” kata Dini.
“Harapan saya kedepan adanya sinergitas ini, pendidikan untuk anak disabilitas jauh lebih baik, anak anak memiliki masa depan yang baik, begitu pun output SLB anak bisa mandiri, bisa kerja ke depannya,” tandasnya. (adv).






