PENDIDIKAN

Puluhan Siswi di Sukabumni Digodok Soal Konservasi Alam

×

Puluhan Siswi di Sukabumni Digodok Soal Konservasi Alam

Sebarkan artikel ini
Perempuan Pecinta Alam Sukabumi
Sejumlah siswi saat mengikuti kaderisasi konservasi bagi perempuan di TNGGP Resort Selabintana pada Minggu (02/06).

SUKABUMI – Puluhan siswi tingkat SMA sederajat dan mahasiwa pecinta alam di wilayah Kabupaten dan Kota Sukabumi, mengikuti kaderisasi konservasi bagi perempuan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Resort Selabintana pada Minggu (02/06).

Pendiri Volunteer Panthera Gunung Gede Pangrango, Engyanto mengatakan, kegiatan konservasi ini perlu dilakukan untuk edukasi. Hal ini, dilakukan bukan hanya bagi kalangan laki-laki saja, namun juga termasuk perempuan. “Iya, karena mereka ini memiliki peranan besar di masa mendatang,” kata Engyanto pada Minggu (02/06).

Bank bjb Tandamata

Menurutnya, edukasi konservasi alam ini, sangat strategis dilakukan untuk kalangan perempuan. Terlebih, para peserta ini merupakan mahasiswa pecinta alam atau siswi SMA sederajat. Namun, kelak mereka diyakini akan menjadi seorang ibu yang baik dan dapat mendidik anak-anaknya sebaik mungkin.

“Ketika ibunya faham dengan azas dan nilai-nilai konservasi akan tersampaikan ke anak secara dini. Kebetulan sampai saat ini belum pernah ada gerakan perempuan yang sangat care terhadap upaya-upaya konservasi di Sukabumi khususnya,” tambahnya.

Konservasi ini, sambung Engyanto, telah mencakup banyak hal. Mereka dikenalkan dengan kawasan Gede Pangrango, UU tentang konservasi, metodologi konservasi, analisa vegetasi hingga kegiatan herping di malam hari.

“Kegiatan ini, bisa dijadikan sebagai pilot project mereka mengaktualisasikan keilmuan kemarin dengan membuat konsep miniatur taman nasional sebagai kawasan konservasi dan mereka cukup memahami,” tukasnya.

Satu peran sederhana yang bisa dilakukan para srikandi muda ini, yaitu mulai pilah pilih penggunaan sampah. Mereka diminta untuk terbiasa membawa kantong belanja sendiri saat membeli kebutuhan di pasar trandisional maupun modern.

“Kalau semua gerakan ini berjalan secara masif, kita nggak ada plastik segala macam, baru perubahan akan terasa. Cara terkecilnya bagaimana satu keluarga mengolah sampah dengan bagus, limbah dengan baik, buat drainase dengan benar, itu menjadi budaya saja maka satu persoalan lingkungan selesai,” bebernya.