SUKABUMI – Pondok Pesantren (Ponpes) Dzikir Al-Fath, menggelar stadium general dan penganugrahan gelar kehormatan keluarga kekerabatan kerjaan Prusia di Aula Syeh Quro Ponpes Dzikir Al-Fath, Kecamatan Gunungpuyuh.
Pimpinan Ponpes Modern Dzikir Al Fath, KH. Fajar Laksana mengatakan, terdapat 17 program Ecosoc PBB, dimana beberapa diantaranya sudah dilakukan di Ponpes Al-fath. “Paling utama dalam 17 program itu merupakan peningakatan kualitas pendidikan, kesehatan, termasuk di dalamnya ketahanan pangan,” kata Fajar kepada wartawan, belum lama ini.
Selain itu, Fajar juga mendapat penganugerahan gelar kehormatan keluarga kekerabatan dari Kerajaan Prusia dari Rusia uang disampaikan langsung perwakilan Kerajaan Prusia sekaligus menjabat selaku Presiden Of Indonesia UIPM di Ecosoc PBB Mohammad Soleh Ridwan.
Selanjutnya, menyusul dengan ditetapkannya seni Budaya Boles dan Adu Lisung sebagat warisan tak benda Indonesia, Pimpinan Ponpes Modern Dzikir Al Fath, Fajar Laksana mengangkat sekaligus menunjuk Mohammad Soleh Ridwan sebagai duta budaya seni Boles dan Adu Lisung dengan gelar Arya Duta Sani Padjadjaran. “Hal ini, untuk mempromosikan seni budaya khas Ponpes Al Fath di manca negara,” imbuhnya.
Setelah ditetapkan sebagai WBTBI, sudah menjadi kewajiban mempertahankan sekaligus mengembangkannya. “Sebab itu saya meminta beliau untuk mempromosikannya ditingkat internasional, mengingat posisinya yang sangat strategis di Ecosoc PBB dimana salah satu bidang yang diaunginya adalah seni budaya,” tuturnya.
Pihaknya, akan menjadi perwakilan salah satu bagian dari 17 bidang yang akan diundang dalam pertemuan di Ecosoc PBB, menurutnya hal ini menjadi sebuah peluang besar untuk bisa memperkenalkan seni budaya Boles dan Adu Lisung di manca negara melalui Ecosoc PBB. “Kami siap berangkat untuk memperkenalkan kearifan lokal seni budaya, khususnya Boles dan Adu Lisung di manca negara,” tandasnya.
Sementara itu, Presiden Of Indonesia UIPM di Ecosoc PBB, Mohammad Soleh Ridwan menilai Pimpinan Ponpes Modern Dzikir Al Fath telah melakukan langkah luar biasa dalam mengembangkan seni budaya dan bisnis, pasalnya kata dia, tidak semua orang bisa dan mau melakukannya dengan baik.
“KH Fajar Laksana ini bukan hanya seorang motivator, tapi adalah seorang inspirator, dimana karya yang diciptakannya bisa dipertanggungjawabkan secara scientific, ada faktor sejarahnya juga, karena untuk bisa menginternasional sebuah karya harus memiliki bukti otentik yang melatarbelakanginya,” ucapnya.
Soleh menambahkan, ketika sudah ditetapkan sebagai WBTBI, akan terjadi kolaborasi antara pemerintahan dengan private sector baik dalam maupun luar negeri.
“Ini akan diperkuat baik secara lokal maupun internasional, nanti akan ada undangan resmi yang ditujukan kepada pemangku adat terkait, yang tembusannya akan disampaikan melalui dinas atau kementerian di negara yang bersangkutan, untuk memperkenalkan lebih jauh tentang seni budaya khas tersebut,” tutupnya. (Bam)






