SUKABUMI — Bagi Kepala Sekolah SMK Terpadu 1 Yaspida H. Margono, SH. MM pendidikan bagi siswa harus memiliki ciri khas, pasalnya dengan adanya konsep pendidikan yang terukur bisa membentuk kepribadian siswa.
Disamping dengan membudayakan ‘isuk mikir peuting dzikir’ (Pagi berfikir, malam berdzikir), yang merupakan esensi dasar santri siswa yaspida, tentu konsep itu dibarengi dengan konsep Mengaji, Mengabdi dan Berbakti.
Saat ini, Sekolah SMK Terpadu 1 Yaspida dibawah naungan Yayasan Sosial dan Pendidikan Islam Darussyifa Al-Fitrat (YASPIDA) lebih mengutamakan kepribadian serta ciri khas dengan 4 pilar kedisiplinan, pertama disiplin dalam tampilan, kedua disiplin dalam peribadahan, ketiga disiplin dalam pembelajaran dan keempat disiplin dalam pergaulan.
“Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membentuk moral dan ahlak terhadap santri siswa pada akhirnya sebagai bekal untuk menghadapi tantangan global dan kemajuan peradaban saat ini , “jelas Margono
Dirinya juga yakin Dunia pendidikan bisa menciptakan seseorang berkualitas dan berkarakter yang memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita-cita yang di harapkan dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai lingkungan.
Menurutnya, pendidikan akan lebih baik jika dibarengi dengan pendidikan kerohanian yang seimbang. Hal itulah yang diciptakan oleh Pondok Pesantren Terpadu Darussyifa Al-Fithroh SMK Terpadu 1 Yaspida Sukabumi pada siswanya.
“Dari awal saya terjun ke Dunia Pendidikan, sudah pernah mengatakan bahwa pertama atas panggilan jiwa dan hati nurani saya untuk mengabdikan diri pada bidang pendidikan. Dunia pendidikan membuat saya merasa tertangtang. Selain itu saya fikir kekayaan bangsa yang lebih utama dikembangkan adalah Sumber daya Manusia (SDM), “jelasnya.
“jadi jika manusianya terdidik insya allah kehidupan kedepan akan cerah dan kita akan sejahtra. Bukan tidak mungkin bangsa ini akan mampu bersaing dengan bangsa lain, “tambahnya.
Orang yang mulai terjun di Dunia Pendidikan sekitar tahun 2000, mengatakan membayangkan jika manusia hanya terdidik dari segi ilmu-ilmu duniawi saja, tanpa dibarengi dengan ilmu agama maka kemungkinan besar hasilnya kurang memuaskan. Tapi, jika manusia diberikan ilmu dua-duanya tentu akan menghasilkan SDM yang luar biasa.
“Ada keterangan mengatakan, bekerjalah seolah kamu hidup seratus tahun lagi, beribadahlah seolah kamu mati besok. Maka, itulah yang seharusnya dilakukan pada generasi muda kita agar kedepan mereka (siswa-siswi) bisa berguna saat siang hari dan bermamfaat juga pada malam hari,”terangnya.
Untuk mendukung konsep tersebut, di Di Pondok Pesantren Terpadu Darussyifa Al-Fithroh SMK Terpadu 1 Yaspida Sukabumi menciptakan konsep seperti itu. Disini memiliki tiga Kurikulum, pertama Kurikulum Keterpaduan, kedua Kurikulum Kemasyarakat dan ketiga Kurikulum Kompetensi.
“Kalau ditanya apa itu kurikulum Keterpaduan, Kurikulum keterpaduan adalah kurikulum yang memadukan kurikulum Kementerian Pendidikan Kebudayaan dan Kurikulum Kementerian Agama dipadukan dengan Ilmu-ilmu kepesantrenan.
“Jadi disini Siswanya belajar Ilmu Disekolah 8 jam dilanjutkan dengan ilmu kepesantrenan 17 jam. Kenapa seperti itu, ya karena kami sadar betul bahwa dimasa yang akan datang kita harus menciptakan lulusan yang cerdas ilmu pendidikan dan cerdas juga ilmu keagamaan. Disini juga siswanya diasramakan, itu yang membedakan dengan sekolah terpadu lainnya,”cetusnya
Adapaun untuk Metodenya menggunakan metode penerapan sistem belajar Active Learning and Creative Learning yang menitikberatkan pada keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar. Penyampaian materi oleh para guru dilakukan secara sederhana, aktif, menarik, kreatif, inovatif, dan menyenangkan.
Sebagai motivasi untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dilakukan berbagai upaya. Antara lain perbaikan dan pengayaan, pembinaan akhlak secara khusus, konseling terpadu yang melibatkan orang tua dan siswa serta masyarakat lingkungan.
Lebih lanjut dirinya mengatakan, ilmu yang sudah didapatkan disini hukumnya mutlak atau wajib untuk diamalkan dimasyarakat. Ilmu tidak akan berguna jika tidak diamalkan, bukan begitu.
“Maka dari itu saya berharap pendidikan ditahun yang akan datang terus meningkat lebih baik lagi. Saya disini khsususnya pada siswa saya mencoba untuk menciptakan budaya ‘Isuk Mikir Jeung Ngikir, Peuting Kudu Bisa Dzikir’. Apa itu maksudnya, ya kan siswa saya SMK maka pada saat pagi para siswa dituntut untuk berfikir dan ngikir (Pekerjaan Praktik siswa SMK), kalau malam siswa saya harus bisa Dzikir dong. Artinya apa, kami ingin dan harus menciptakan generasi yang memiliki ilmu lahir dan batin, “jelasnya
Kedepan dirinya berharap, pendidikan di Negara ini lebih baik lagi. Dan kualitas pendidikan kita dimata dunia atau negara tetangga lebih baik lagi, minimal setara dengan negara tentangga seperti Singapura, Thailand dan Malaysia. Jangan sampai ketika para siswa yang sudah lulus dari sekolah, mereka tidak bisa tidak untuk siap dan mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat.
“Ya minimal memberikan dampak positif pada masyarakat sudah sedikit bagus, ketimbang keluar sekolah harus menjadi beban masyarakat. Jadi intinya para siswa yang sudah selesai dari sekolah harus bisa berguna bagi masyarakat khususnya masyarakat tingkat keluarga kalau tidak bisa berguna tingkat masyarakat luas juga.(*)




