Itu berkat Von Braun. Kala itu, sebagai direktur pertama Marshall Space Flight Center alias Pusat Penelitian Peroketan dan Pesawat Ruang Angkasa NASA, Von Braun menginisiatori pembangunan museum. Tujuannya, pusat dokumentasi sejarah eksplorasi ruang angkasa AS.
Di sana tersimpan semua kiprah Von Braun. Mulai misi peluncuran roket pertama yang menembus luar angkasa atau yang dikenal dengan roket V-2.
Sampai misi fenomenal Saturn V yang membawa manusia pergi ke bulan, yakni Apollo pada 1969. Termasuk coretan Von Braun di secarik kertas lusuh yang berisi tentang mimpinya ke luar angkasa pada usia 12 tahun.
Sejak dibuka pada 1970 untuk objek wisata umum warga AS, USSRC mulai merambah ke dunia pendidikan pada 2004 melalui program Space Camp.
Mereka merangkul guru untuk menjangkau jutaan murid di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Hingga kini, sudah 2.776 guru dari 54 negara bagian AS dan 62 negara di belahan dunia yang telah mengikuti program tersebut.
Jangan salah persepsi. Mereka dilatih tidak untuk menjadi astronot. Namun, mereka diajari cara menerapkan STEM. Yakni, pendekatan pembelajaran interdisiplin lewat science, technology, engineering and mathematics.



