PENDIDIKAN

Dosen IAIN Jember Beri Khotbah di KBRI Australia

RADARSUKABUMI.com – Puncak Musim Dingin, Salat Idul Adha di Kisaran -3 Derajat Celsius
Muslim Australia yang berada di Canberra menunaikan salat Idul Adha 1440 Hijriah di Balai Kartini Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Canberra, Minggu (11/8).

DOSEN Fakultas Syariah IAIN Jember Wildani Hefni yang juga mahasiswa di The Australian National University (ANU) Canberra dipercaya untukmemberikan khotbah. Semarak Idul Adha di Canberra terlaksana berkat kerja sama Australia-Indonesia Muslim Foundation Australian CapitalTerritory (AIMF-ACT) dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Canberra.

Salat Idul Adha dimulai pukul 08.00 pada puncak musim dingin kisaran -3 derajat Celsius. Dalam khotbahnya, Wildan mengangkat tema visi moderasiberagama dalam ritual kurban dan haji. Menurut dia, dari aspek nilai filosofis, ritual kurban dan haji dapat dipahami dalam arti moderat dengan meyakini cara ibadah masing-masing tanpa menyalahkan yang lain.

Selain itu, pengorbanan Ibrahim menggambarkan aktualisasi integrasi cinta Tuhan dan cinta kemanusiaan.
Di hadapan ratusan muslim di ibu kota Australia tersebut, alumnus PMII UIN Walisongo itu menyampaikan bahwa tokoh sentral dalam sejarah ritual kurban dan haji adalah Nabi Ibrahim.

Ibrahim telah mengajarkan perjuangan humanistis dalam menjalankan pesan keagamaan disertai perjuangan kemanusiaan.’’Ibrahim telah mengajarkan kita bagaimana menemukan cinta sejati yang dibangun di atas ketulusan untuk berkurban hingga menuai kesalehan personal dan sosial,’’ ucapnya.

Wildan mengutip penjelasan Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin tentang sifat hati manusia. Di antaranya, sifat bahimiyah, sifat kebuasan, dan sifat syaithaniyah. Tak heran watak manusia sering kali dikuasai kemarahan, penuh kebencian, caci maki, dan segala perbuatan tercela lainnya.

Dalam konteks itu, dia menekankan relevansi ritual kurban untuk menanggalkan ego primor dialisme dan menenggelamkan eksklusivitas. Ritual kurban dimaksudkan sebagai perjuangan untuk menghindari cinta buta, cinta dunia berlebihan. ’’Jiwa kebinatangan inilah yang harus kita sembelih agar menjadi orang yang saleh dan bertakwa.

Pada titik inilah, agama mengajarkan kepada kita tentang beragama yang moderat, yang terbuka, yang tidak terjebak pada nilai-nilai kehewanan yang tak terpuji,’’ urainya. ’’Ritual kurban sejatinya mengandung gema profetik penghayatan keberagamaan agar tak muncul kekerasan dalam aras kehidupan,’’ tambahnya.

Sementara itu, alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, tersebut menuturkan, ritual ibadah haji juga merupakan gambaran kerangka konseptual moderasi beragama.

Dalam proses ibadah haji, tidak lagi ada perbedaan status sosial, tidak ada atasan bawahan, tidak ada orang kaya-miskin, semuanya sama. Perbedaannya hanya pada konteks praktik ibadah yang dijalankan. Keragaman dalam keberagamaan adalah sebuah keniscayaan dalam proses ibadah haji. ’’Ibadah haji mempertemukan keragaman etnis, budaya, suku, bangsa, bahasa, dialek, bahkan praktik serta pemahaman keagamaan.

Di situlah nilai toleransi dijunjung. Keragaman dalam keberagamaan dilakukan. Nilai itulah yang seharusnya berimplikasi positif terhadap aktivitas kehidupan yang damai,’’ tandasnya.

 

(gus/c22/end)

Tags
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button