Lebih jauh mantan ketua umum Partai Hanura itu menuturkan bahwa modal yang dimiliki bangsa ini adalah kebersamaan, kesadaran untuk kebersamaan, dan toleransi. Melalui itu semua, bangsa Indonesia tidak mementingkan egonya masing-masing.
Wiranto menegaskan bahwa menjaga toleransi dan Pancasila itu adalah wasiat dari para pendahulu. “Jika (Pancasila, Red) tidak diajarkan dan diingatkan lagi, maka anak-anak akan lupa,” jelasnya.
Dampaknya kemudian muncul ego-ego lagi. Dan berpotensi menimbulkan suatu perpecahan. Di tempat lain, respons positif untuk menghidupkan kembali mapel PMP juga diungkapkan oleh Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK).
Menurut JK, memang penting bagi masyarakat atau pelajar untuk mengetahui pancasila. Tapi yang lebih penting adalah memberikan secara langsung teladan berupa perbuatan yang mencerminkan Pancasila.
”Belum tentu diberikan lagi pelajaran masal langsung semua baik. Justru kita harus memberikan contoh.Pelaksanaan Pancasila itu begini. Keadilannya begini, ketuhannya begini,” ujar JK di kantor Wakil Presiden.
Kata JK, tidak ada jaminan dengan memasukan materi pancasila ke dalam pelajaran itu lantas semua masalah bisa selesai. Menurut dia perlu ada contoh terutama dari para pemimpin dalam mengamalkan pancasila. ”Perlu juga dievaluasi caranya bagaimana,” imbuh dia.



