Sang atlet, Miftahul Jannah, mengaku sempat menangis tapi lega setelah memutuskan tetap tak mau melepas jilbabnya. Menurutnya, itu adalah keputusan terbaik. ”Lebih banyak lega. Saya juga bangga karena sudah bisa melawan diri sendiri, melawan ego sendiri. Saya punya prinsip tak mau dipandang terbaik di mata dunia, tapi di mata Allah,” kata Miftahul Jannah kepada wartawan setelah gagal bertanding.
Ia sudah berlatih selama sepuluh bulan untuk bertanding di Asian Para Games. Namun, harapannya untuk mendulang medali di Asian Para Games 2018 akhirnya harus dikubur dalam-dalam. Keputusan Miftahul Jannah dipuji Wakil Bupati Aceh Barat Daya Muslizar. Menurutnya, sikap perempuan tunanetra kelahiran 21 tahun lalu sudah sangat tepat. “Sikapnya membuat kami bangga. Ini melebihi ratusan, bahkan ribuan, medali emas yang hendak dia persembahkan buat daerah, bahkan negara Indonesia,” jelas Muslizar.
Sementara itu, Wakil Ketua KONI Aceh Barat Daya (Abdya) Alamsyah mengaku kecewa terhadap tim ofisial Indonesia karena telat memberi tahu soal hasil meeting yang diikuti. Soalnya dalam pertandingan, atlet perempuan dilarang mengenakan hijab. ”Miftah bilang dia sudah berjanji kepada Allah untuk tidak membuka hijabnya. Dia lebih baik mengundurkan diri daripada harus buka hijab,” kata Alamsyah. “Hasil technical meeting yang diikuti tim ofisial Indonesia baru diberi tahu pada sore kemarin. Namun yang disesali kenapa seorang pelatih dan ofisial tidak memberitahukan lebih awal,” jelasnya.
Menurut Alamsyah, Miftah merasa sedih atas putusan tersebut. Kekecewaannya membuat Miftah mengaku ini terakhir kalinya ia mengikuti cabang judo. ”Dia (Miftah) menyampaikan, ini merupakan yang terakhir untuk ikut cabang judo karena ini mengorbankan hak privasi seseorang,” ungkap Alamsyah. (els/run)





