News

SPPG Cikole Cisarua 2, Benteng dan Citamiang 2, Blak-blakan Soal Harga Menu Makan Gratis

×

SPPG Cikole Cisarua 2, Benteng dan Citamiang 2, Blak-blakan Soal Harga Menu Makan Gratis

Sebarkan artikel ini
BERSIH: Sejumlah petugas SPPG Cikole 2 menggunakan alat pelindung untuk memastikan makanan yang disajikan higenis. FOTO: ISTIMEWA

SUKABUMI — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cikole Cisarua 2, Benteng dan Citamiang 2 terus memperkuat komitmennya dalam peningkatan layanan kepada para penerima manfaat.

Tidak hanya memastikan makanan bergizi tersaji sesuai standar, SPPG juga secara terbuka mempublikasikan rincian harga setiap komponen menu yang diberikan kepada siswa.

Bank bjb Tandamata

Langkah ini, dinilai sebagai terobosan dalam menjunjung tinggi transparansi pengelolaan program makan bergizi gratis.

Dalam salah satu menu yang disajikan, SPPG membeberkan detail harga tiap item makanan, sehingga publik dapat mengetahui secara jelas alokasi biaya per porsi.

Owner SPPG Cikole Cisarua 2, Benteng dan Citamiang 2, Tia Yuanita menjelaskan, keterbukaan tersebut dilakukan agar masyarakat memahami bahwa kualitas bahan dan kandungan gizi menjadi prioritas utama.

“Kami ingin masyarakat tahu bahwa setiap rupiah yang digunakan benar-benar dialokasikan untuk kualitas makanan anak-anak. Transparansi ini bagian dari tanggung jawab kami,” jelas Tia kepada wartawan, Minggu (1/3).

Adapun, rincian harga dalam menu yang disajikan antara lain bolu pisang senilai Rp5.000, ayam ungkep kecap Rp15.000, tahu/tempe ungkep Rp4.500, telur rebus Rp3.000, serta buah jeruk Rp2.500. Seluruh komponen tersebut dikemas dalam satu paket makan bergizi gratis yang dibagikan kepada siswa.

“Tak hanya membuka harga, kami juga mencantumkan informasi nilai gizi dalam setiap paket. Dalam satu kali penyajian tercatat mengandung 358 kilokalori energi, 20 gram protein, 16 gram lemak, 55 gram karbohidrat, dan 3 gram serat,” ujarnya.

Informasi ini, menjadi bukti bahwa program tidak sekadar membagikan makanan, tetapi memastikan keseimbangan nutrisi.

“Selain itu, peningkatan layanan juga dilakukan melalui pengawasan ketat terhadap proses pengolahan dan distribusi. Bahan baku dipastikan segar dan higienis agar kualitas tetap terjaga hingga sampai ke tangan penerima manfaat,” ucapnya.

Ia berharap, keterbukaan rincian harga dan nilai gizi ini dapat menjadi contoh bagi SPPG lainnya di Kota Sukabumi.

“Pelayanan sosial harus profesional, transparan, dan bisa dipertanggungjawabkan. Itu komitmen kami,” tukasnya. (why)