“Ia harus bisa melaksanakan tugas dan fungsinya secara maksimal,” imbuhnya.
Cukup sudah euforia dan rasa bangga. Saatnya Bayu mulai bekerja. Karena tugas dan fungsi seorang Kasat sangat banyak dan kompleks. Mulai dari mengamankan perda, kawal kebijakan kepala daerah, hingga menjaga keamanan wilayah. “Satpol PP tak hanya penjaga kantor,” cetusnya.
Mohan membagi dua kompleksitas persoalan. Persoalan klasik dan persoalan kekinian. Untuk persoalan klasik, Mohan mencontohkan keamanan dan ketertiban antar wilayah. “Termasuk juga ada persoalan tuak yang kembali marak,” tekannya.
Secara pribadi, Mohan mengaku masih butuh bukti riil, apakah Bayu mampu atau tidak membawa Satpol PP jadi lebih garang. Di atas kertas, menurut hasil pansel yang ia terima, Bayu menunjukan kualitas yang baik.
“Itu secara teoritis (bagus), nanti kita lihat (bagaimana prakteknya),” tegas wakil wali kota dua periode ini.
Namun ia punya keyakinan, mantan Lurah Banjar itu bisa cepat beradaptasi dengan tugas barunya. Apalagi, dari segi pengalaman, Bayu bukanlah orang baru di Satpol PP. “Karirnya lama juga di Satpol PP,” terangnya.
Mohan juga mengaku sempat melihat bagaimana respons para anggota Satpol PP, jelang pelantikan dirinya menjadi Kasat. Ada semangat dan gairah yang sangat tinggi menyelimuti para anggota. “Ya mudah-mudahan ada kaitannya dengan kinerja yang signifikan,” cetusnya.
Tak hanya untuk Bayu, tapi Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Mataram yang baru, Baiq Asnayati diminta segera tancap gas. Mantan Sekretaris Inspektorat itu diingatkan tentang kemampuan lobi yang harus dimiliki seorang Kepala Dinas Sosial. “Dana Dinsos, lebih banyak di pemerintah pusat dan provinsi,” ujarnya.


