Susno Duadji : Bikin Ribut dalam Kasus Brigadir J, Segera Dinonaktifkan!

Komjen Pol (Purn) Susno Duadji
Komjen Pol (Purn) Susno Duadji (foto : disway)

JAKARTA — Mantan Kapala Badan Reserse Kriminal Polri (Kabareskrim Polri) Komjen Pol (Purn) Susno Duadji menyebut kasus kematian Brigadir Yosua atau Brigadir J di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo menyimpan banyak kejanggalan.

Ya, sekalipun saat ini hidup sebagai petani di pelosok desa, Susno Duadji ikut mengamati kasus penembakan yang merenggut nyawa Brigadir J. Dengan pengalaman di bidang reserse yang dimilikinya, jenderal bintang 3 ini memberikan ulasan tajam melalui kanal Youtube miliknya.

Bacaan Lainnya

Dalam salah satu ulasannya, Susno Duadji blak-blakan menyebut sosok ini yang justru bikin publik ribut dalam kasus kematian Brigadir J. Menurut Susno Duadji, dokter forensik yang memeriksa Brigadir J harus dinonaktifkan. Menurutnya, ada sejumlah kejanggalan yang dia lihat pada kasus ini.

“Kejadian meninggalnya Brigadir J itu hari Jumat, kenapa diumumkan hari Senin. Tidak ada istilah libur di Bareskrim,” kata Susno Duadji dikutip dari laman Youtubenya.

Susno Duadji mengaku curiga dengan kinerja dokter forensik yang terlihat sangat janggal. “Dokter yang memeriksa dan yang memberikan autopsi harus diperiksa, bila perlu dinonaktifkan gitu,” ujar Susno.

Susno Duadji mengungkapkan, alasan mengapa dokter forensik yang menangani jenazah Brigadir J harus diperiksa. “Ya karena janggal, dan sistemnya harus di buka ke publik. Apa visum yang dibuat sang dokter itu,” ucapnya.

“Jadi sorotan kita harus ke dokter yang memeriksa itu, dia meriksa di bawah tekanan atau meriksa beneran,” sambungnya.

Sebab, kata Susno Duadji, jika pemeriksaan ini sudah sesuai prosedur maka publik tidak akan ribut soal penyebab tewasnya Brigadir Joshua. “Kalau meriksa beneran, orang gak akan ribut ini kena tembak peluru atau kena luka sayat? Atau luka tumpul? Atau dokter-dokteran yang meriksa?,” tuturnya.

Selain itu, Susno Duadji juga menilai, hasil autopsi ulang Brigadir J akan merubah jalan cerita kasus kematian ajudan Irjen Ferdy Sambo itu. “Jika apa yang didapatkan dalam otopsi ulang berbeda dengan hasil otopsi ulang pertama, maka ceritanya akan lain,” ujarnya.

“Kalau apa yang didapat dari hasil forensik (otopsi ulang) berbeda dengan hasil dokter forensik pertama, maka akan merubah jalannya cerita penyidikan menjadi 180 derajat,” imbuhnya.

Sita Ponsel Milik Orang yang Ada di TKP

Susno Duadji menambahkan, ada satu syarat agar kasus ini bisa terungkap dengan jelas. Syarat tersebut menurutnya pihak kepolisian harus menyita ponsel sejumlah orang yang ada di TKP (Tempat Kejadian Perkara) tewasnya Brigadir J. “Tujuannya adalah untuk mengetahui pembicaraan, kiriman gambar hingga video dan lainnya,” ujarnya.

“Timbul pertanyaan kalau itu hilang. Kan ada provider, minta kepada provider karena ini kasus kriminal pasti provider akan berikan kok, akan terlacak semua,” terang Susno Duadji.

“Dari handhone juga bisa diketahui posisi masing-masing pemegang telepon pada jam itu, sambungnya.

Pos terkait