ACEH UTARA — Dua bulan pascabanjir besar, tenda-tenda pengungsian masih berdiri rapat di Dusun Lhok Pungki, Desa Gunci, Kabupaten Aceh Utara. Terpal biru dan oranye menjadi atap sementara bagi ratusan warga yang kehilangan kampung halaman.
Di tengah ketidakpastian soal hunian tetap, Tim Gerakan Anak Negeri hadir membawa misi besar: menyalurkan seragam sekolah bagi anak-anak korban banjir. Bantuan ini menjadi upaya menjaga keberlanjutan pendidikan di tengah kondisi darurat.
“Semua warga di sini kampungnya sudah hilang. Mereka tidak punya rumah lagi,” ujar Hazairin Sitepu, penanggung jawab Gerakan Anak Negeri, Rabu (11/2/2026).
Dusun Payarubek kini menjadi titik kumpul warga yang mengungsi dari dataran rendah ke kawasan lebih tinggi demi keselamatan. Di sela-sela tenda pengungsian, anak-anak tampak berlarian tanpa seragam dan tanpa ruang belajar yang layak. Meski hidup berubah drastis, semangat mereka sebagai anak-anak tetap bertahan.
Para orang tua telah dua bulan menanti realisasi pembangunan hunian sementara dari pemerintah. Hazairin menegaskan, harapan warga sederhana: tetap tinggal bersama dalam satu kawasan, tidak tercerai-berai dari struktur sosial yang selama ini mereka miliki.
Ia berharap pembagian seragam sekolah ini dapat menghadirkan sedikit kebahagiaan.
“Semoga ini bisa memberi kegembiraan untuk anak-anak dan juga orang tuanya,” katanya.
Hazairin menambahkan, seragam sekolah memang tidak mampu menghapus trauma bencana, namun menjadi pengingat bahwa masa depan anak-anak tidak ikut hanyut bersama banjir.
Bantuan ini merupakan bagian dari komitmen Gerakan Anak Negeri menyalurkan 1.000 seragam sekolah bagi anak-anak korban banjir di Aceh. Distribusi telah dimulai dari Aceh Tamiang dan Aceh Utara, serta akan berlanjut ke Kabupaten Bireuen dan Bener Meriah.
Kolaborasi kemanusiaan ini turut melibatkan PMI Kabupaten Bogor. Kepala Bidang Organisasi PMI Kabupaten Bogor, Didi, menyebut kerja sama lintas daerah ini sebagai bentuk kepedulian bersama terhadap korban bencana.






