“Saya pun ikut menggerakkan kawan-kawan dari Gayam yang ingin berkarya, kami pun buat pameran ketika ada acara di Gayam,” terangnya. Setidaknya di Gayam, Angga dan kawan-kawannya membuat perkumpulan sendiri secara sederhana guna menjadi wadah untuk berbagi ilmu atau menggambar bersama.
Ketika menggambar, Angga lebih nyaman menggambar menggunakan pensil. Karena selain ekonomis, gambar menggunakan pensil itu lebih realis ketika dinikmati. “Menggambar menggunakan pensil identik dengan kesederhanaan, karena itu saya nyaman,” ujarnya.
Bahkan, kini tarif yang ia tawarkan kepada para pemesannya sudah naik menjadi Rp 300 ribu per wajah, kertas ukuran A4. “Proses naiknya nilai karya saya tentu bertahap, karena itu saya menikmatinya, jadi tak boleh berhenti berkembang, harus terus menambah jam terbang,” tutur pria berambut lurus itu.
Bahkan, dia menceritakan pernah memeroleh pesanan hingga Batam dan Sumatera Barat.Alasan karyanya bisa diketahui di luar kota disebabkan oleh keaktifan Angga mempromosikan karyanya di pelbagai media sosial seperti Instagram, Twitter, dan Facebook.
Angga pun mengembangkan sebuah situs untuk memuat tulisan dan karyanya di sebuah situs duniapensil.com yang dibuatnya. “Situs tersebut rencananya akan digunakan menjadi galeri karya-karya saya,” tuturnya.Di luar dunia menggambar, Angga juga terkadang membuat batik cap di rumahnya.
Pesanan batik biasanya datang ketika ada festival, karnaval, atau momen tertentu lainnya.
(bj/ch/gas/nas/bet/JPR)



