“Dulu almarhum ayah saya seorang seniman, beliau merupakan pemain ketoprak di desa setempat, tapi saya lupa nama grup ketopraknya, jadi kemungkinan darah seni itu berasal dari ayah saya,” jelas alumni SMKN Purwosari jurusan rekayasa perangkat lunak 2015 itu.
Angga sangat menikmati prosesnya berkarya. Kemudian, ketika dulu masih di SMK, Angga memeroleh pesanan gambar sketsa wajah. “Awalnya dulu, saya jual karya sketsa wajah hanya Rp 15 ribu per wajah ukuran kertas A4,” terangnya.
Semangat Angga deras mengalir, dia pun berinisiatif membuat portofolio sebanyak mungkin. “Dulu saat bikin portofolio, saya bikin satu gambar per hari, lalu saya unggah di media sosial, sehingga banyak orang yang akan mengetahui keberadaan saya sebagai seorang seniman,” katanya.
Uniknya, selain konsumen yang datang, Angga juga bertemu dengan seorang seniman asal Desa/Kecamatan Kalitidu yang bernama Arifin atau akrab disapa Pak Pin melalui media sosial. Dia diajak Pak Pin untuk main ke sanggarnya untuk belajar bersama sekitar 2013 silam.
“Pak Pin dulu tahu saya sering unggah gambar di Facebook, lalu saya pun dikirimi pesan dan diajak ke sanggarnya,” ujarnya. Pertemuan dengan Pak Pin cukup berperan dalam hidupnya, karena dia pun memiliki banyak kawan baru yang sehobi dengannya.
Kendati demikian, selain aktif di sanggar milik Pak Pin, Angga juga aktif dengan kawan-kawannya di rumah untuk berkarya. Karena, di sekitar Kecamatan Gayam juga ada beberapa kawannya yang ikut bergabung dengan sanggar yang didirikan oleh Pak Pin tersebut.



