Haris menegaskan, pihaknya akan tetap melakukan pendampingan secara langsung. Bahkan, lanjut dia, Kakanwil Kemenag Jawa Timur langsung menginstruksikan jajaran Kemenag kota dan kabupaten hingga tingkat kecamatan di kantor urusan agama (KUA) turut serta melakukan pendampingan. ”Minimal visitasi dengan menyosialisasikan beberapa hal, termasuk pencairan tersebut. Kami jamin pengurusannya mudah,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kemenag Kota Surabaya Pardi belum menerima salinan CoD bagi jemaah haji asal Surabaya yang meninggal di Tanah Suci. Meski begitu, Kemenag Kota Surabaya akan tetap memberikan pendampingan kepada keluarga jemaah haji yang meninggal di Tanah Suci. ”Visitasi tetap dilakukan ketika kami menerima CoD tersebut. Sebab, sementara masih dibawa ketua kloter di Arab Saudi,” terangnya.
Selanjutnya, soal mitigasi jemaah asal Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terkonfirmasi positif Covid-19, Haris menyatakan bahwa Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES) Sukolilo akan menyediakan gedung khusus untuk karantina sementara. ”Dengan catatan, ada pendampingan dari Provinsi Bali dan NTT. Tapi, semoga saja tidak ada ya,” tuturnya.
Berdasar informasi, pada gelombang pertama kepulangan jemaah haji, ada 38 jemaah haji yang terpapar Covid-19 dengan kategori tanpa gejala atau OTG. (*)






