“Pаrа реnеlіtі dаn раkаr іntеrnаѕіоnаl mеngіngаtkаn bаhwа rіѕіkо kesehatan уаng dіtіmbulkаn оlеh рараrаn BPA сukuр bаnуаk. Sehingga реrlu kеѕеrіuѕаn mеngаtаѕіnуа,” kаtа реngаjаr Fаkultаѕ Kеѕеhаtаn Mаѕуаrаkаt Unіvеrѕіtаѕ Sumatera Utara (USU) іnі.
Mengutip situs Info Sehat Fakultas Kedokteran UI, Prof. Dr. dr. Soehartati Argadikosoema Gondhowiardjo, mengatakan bahwa sebelumnya kanker prostat kebanyakan terjadi pada pria usia 60 tahun ke atas. Namun kemudian, telah terjadi peningkatan terhadap kasus kanker prostat yang terjadi lebih cepat pada pria usia 15–40 tahun.
Di Indonesia, Global Cancer Statistics menunjukkan bahwa kanker prostat adalah kanker kelima yang paling umum terjadi pada pria di Indonesia, dengan jumlah kasus baru sebanyak 13.563 pada tahun 2020, sebagaimana juga dilansir dari data International Agency for Research on Cancer dari World Health Organization (WHO).
Terlepas dari tingginya angka kasus kanker prostat pada pria di Indonesia, 70% pria yang terdiagnosa dengan kanker prostat baru mencari pengobatan medis ketika sudah terlambat, demikian papar Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI) dan Profesor/Staf Medis Senior Departemen Radioterapi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo–FKUI ini.
Saat ini, penelitian terus berlangsung untuk menyelidiki kaitan antara paparan BPA dan kanker prostat, Penelitian terbaru yang diterbitkan pada 2023 menganalisis paparan konsentrasi rendah Bisfenol A, S, dan F pada sel kanker prostat.
Penelitian yang dipublikasikan di International Journal of Molecular Sciences dengan judul “Transcriptome-Wide Analysis of Low-Concentration Exposure to Bisphenol A, S, and F in Prostate Cancer Cells” ini menemukan bahwa paparan BPA meningkatkan kanker prostat, dan hasilnya menunjukkan bahwa efek paparan bisfenol pada kanker prostat dimediasi oleh jalur sinyal reseptor androgen. (*)





